Sekjen Forum Ulama Indonesia Muhammad Al Khaththath menyinggung pemimpin muslim untuk medio 2019 dalam pidatonya di Milad ke-19 FPI.
Dia menuturkan seandainya pada 2019 nanti negara di ujung tanduk, maka dirinya menanyakan apakah umat Islam akan menyelamatkan negara atau tidak. Untuk menyelamatkan itu, kata dia, maka harus ada pemimpin yang kuat.
Milad FPI ke XIV di MONAS
|
“Semoga pemimpin itu ada di antara saudara-saudara. Oleh karena itu saya menyerukan persatuan dan kesatuan umat Islam di seluruh wilayah,” kata Al Khaththath dalam pidatonya tersebut.
Pada 2019, Indonesia akan menggelar Pemilu Presiden setelah pasangan Jokowi-Jusuf Kalla memimpin negara ini sejak Oktober 2014.Al Khaththath mendoakan agar Indonesia diberikan pemimpin muslim yang diberikan ridho dari Tuhan. Dia juga meminta agar diberikan pemimpin yang dapat dipercaya.
![]() |
| Foto: detikcom |
Di antara tokoh lintas agama yang hadir yakni Lieus Sungkharisma, yang merupakan perwakilan Tionghoa. Selain itu hadir juga ketua PGI DKI pendeta M Supit.
Supit menyebut hubungan FPI dengan pemeluk agama lain sudah dekat sejak lama. Imam besar FPI Rizieq Syihab menurutnya juga dekat dengan pemeluk agama lain.
"Sejak 13 tahun yang lalu. Kami mengadakan paskah pertama di Monas, tepatnya kami besilaturahmi dengan habib. Saya dengan Romo Magnis dengan beberapa pendeta kita kami berdialog. Memang agak santer dan agak melakukan tindakan kekerasan sehingga takut orang datang. Tapi waktu saya datang tetapi tidak seperti itu," kata Supit di muat detik, Sabtu (19/8/2019).
Dalam acara itu tokoh lintas agama menghadiahkan bunga sebagai ucapan selamat kepada FPI. Bunga mawar berwarna merah itu diterima para pimpinan FPI.Selain tokoh lintas agama itu juga hadir Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan. Putra mantan presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy juga hadir di lokasi. Maka dengan hadirnya para pelakon politik yang berada di acara Milad FPI itu pulalah Sekjen Forum Ulama Indonesia Muhammad Al Khaththath tak pelak, ia pun semangat menyinggung pemimpin muslim untuk medio 2019 nanti.
Yang kerap diserukan ormas-ormas berhaluan politik keagamaan ini pasti lebih dahulu mengedepankan masa depan politik khilafah dan nuansa syariah di Indonesia.
Apapun bakal diserukan dengan mengatasnamakan agama Islam dan ajarannya dengan jargon 'pemimpin muslim', padahal selebihnya Jokowi saat ini adalah muslim tak terkecuali Jusuf Kalla pun seorang muslim. Jadi kriteria seperti apa lagi yang di maunya oleh kalangan seperti ini bagai 'dewa' di tengah sahara.
Setiap periode selalu 'muslim', '...muslim',...dan gaungkan keslam-an dan politik penguasaan negara. Siapa sangka era SBY (seorang muslim) pun kerap menghadapi cemooh selaku pemimpin. Namun, yang namanya politik praktis, ranah ini paling subur untuk digarap pada wawal-awalnya, selang itu pengucilan lah yang terjadi.
Momen ini selayaknya dimanfaatkan sebagai bagian dari lahan politik ke depannya untuk merebut suara mayoritas oleh sebagian politisi di negeri ini. Sadar atau tidak sadar itu ajang oportunitas dan dimanfaatkan selagi momennya berada di tempat yang tepat. Walaupun keagendaan rutin ini memang semestinya dilaksanakan oleh FPI dalam program organisasinya.


No comments:
Post a Comment