Al Khaththath bilang Sultan Agung Sejarah Khilafah. Jadi intinya balik ke kerajaan - Indowordnews

Breaking

19 August 2017

Al Khaththath bilang Sultan Agung Sejarah Khilafah. Jadi intinya balik ke kerajaan

Sekjen FUI Al Khaththath.
Dalam wawancaranya dengan awak media setelah mengisi acara di milad FPI ke 19, Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Al Khaththath menyatakan sistem pemerintahan ala Islam atau khilafah Islamiyah bukanlah hal yang baru di Indonesia.

Ternyata Al Khaththath belajar rupanya sejarah kerajaan Mataram. Kala itu dipimpin Sultan Agung adalah sejarah bahwa sistem khilafah di bumi Nusantara memang pernah ada.

"Sultan Agung, Raja Mataram itu kan gelarnya Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah. Nah itu [khilafah] sudah diterapkan Sultan Agung. HTI [Hizbut Tahrir Indonesia] malah masih wacana," kata Al Khaththath di Stadion Muara Kamal, Jakarta Utara, Sabtu (19/8).

Berangkat dari sejarah Sultan Agung tersebut, Al Khaththath mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia seharusnya tidak perlu heran dengan sistem khilafah.

Jadi, intinya khilafah yang dimau ini sama halnya ketika Otoman masih jaya,  itu adalah bentuk kerajaan yang pusatnya di Turkey Raya, tapi Turkey malah telah menganut demokrasi.

Seperti Inggris yang menganut Monarchy, dan kerajaan Mataram berarti reborn-nya model kerajaan atau kesultanan bentuk klasik kekuasaan diinginkan terlahir kembali.

Khaththathah juga mengatakan, "Apalagi orang Jawa. Itu kan [sejarah] leluhur kita," ujar Al Khaththath.

Nah nampak kan,  bahwa pemikiran balik ke masa lalu, masa jayanya kerajaan paling identik di paham khilafah yang di jargonkan oleh HTI dan lainnya.

Bayangkan wahai Khaththathah!!! Kalau mau Anda,  maka kita lihat kerajaan Mataram itu dari sejak diperintah Sultan Agung seusai amangkurat I tiada, Sultan Agung berkuasa sejak tahun 1613-1645, sekitar 32 tahun berarti ia memerintah, cukup lama.

Lagian yang memerintah itu selalu berasal dari satu silsilah keturunan, tidak berasal dari rakyat jelata atau keturunan manapun.

Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram atau Sultan Agung Senapati-ing-Ngalaga, pendahulunya ialah Adipati Martapura yang menggantikan Amangkurat I pada Dinasti Mataram.


Al Khaththath mengingatkan masyarakat Indonesia agar tidak melupakan sejarah. Dalam hal ini sejarah seputar eksistensi khilafah yang pernah diterapkan Sultan Agung kala memimpin Kerajaan Mataram.

"Kan Bung Karno mengatakan, Jas Merah. 'Jangan sekali-kali melupakan sejarah'," kata Al Khaththath.

Jubah Putih

Al Khaththath pun meminta masyarakat Indonesia tidak 'alergi' melihat seseorang yang menggunakan jubah putih. Dia menegaskan jubah putih bisa dikatakan sebagai pakaian nasional. Alasannya, kata Al Khaththath, baju besar berwarna putih itu pernah dipakai para pahlawan nasional.

Dia menyebut Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, dan Sultan Hasanuddin selalu mengenakan jubah putih kala berjuang menentang penjajah di masa lalu.

"Mereka pahlawan nasional kan? Lah mereka dapat gelar pahlawan nasional, berarti pakaian nasional dong kalau begitu," kata Al Khaththath.

Inilah yang dimau sama HTI, FPI,  FUI. Artinya, pemahaman FUI CS dan HTI memang anti demokrasi, mengharapkan Monarki alias kerajaan. Sementara kerajaan ini sudah tidak dapat diberlakukan lagi.

Mereka memang menghayatinya namun tak dapat mewujudkannya. Sehibgga di bawa lah simbol Islam sebagaimana Otoman. Padahal itu sama saja tabiat dinasti yang monopoli, walau adil namun penuh intrik menjadi raja dalam tubuh dinasti

Beda halnya jika Arab Saudi, Inggris, Brunei. Sedangkan Indonesia yang menganut sistim demokrasi toh sama halnya dengan negara lain termasuk Irak, Iran dan Suriah. Sistim universal yang memberikan semua warga negara berhak memimpin bukan monopoli. Itulah demokrasi.

(embo)

Sumber CNN Indonesia

No comments:

Post a Comment