![]() |
| Veronica Tan.Sumber/profilbos.picture |
Veronica Tan lahir di Medan. Ia putri sulung dari tiga bersaudara. Kedua orangtuanya keturunan Tionghoa.
Tradisi leluhur yang feodal tidak dijalankan lagi dalam keluarganya yang modern. Namun, neneknya dari pihak ayah sempat mengalami tradisi mengikat kaki yang dipraktikkan terhadap anak-anak perempuan suku Han di Tiongkok masa lalu. Kecantikan dan posisi perempuan waktu itu dinilai dari kaki-kaki mereka yang kecil. Ia beruntung tidak mengalami nasib seperti itu.
Ayahnya sosok yang penyabar, sementara ibunya biasa memberi hukuman kepada anak-anak di saat nilai pelajaran sekolah kurang memuaskan. “Mama ingin anak-anaknya sekolah tinggi. Anak perempuan minimal harus punya karier,“ tuturnya.
Setelah menamatkan SD dan SMP di Medan, Veronica Tan pergi ke Jakarta untuk melanjutkan belajar di SMA. Ia tinggal di rumah tantenya. Sikap ibunya yang mementingkan pendidikan ternyata berbeda dengan pendirian tantenya yang menganggap perempuan tidak perlu bersekolah tinggi. Sikap itu memengaruhi dirinya. Tanpa minat khusus, ia mengikuti ujian masuk di sejumlah perguruan tinggi. Ia diterima di jurusan arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung, tapi ibunya tidak setuju ia kuliah di situ.
Ibunya khawatir Veronica terpengaruh pergaulan di Bandung. Veronica lantas kuliah di jurusan arsitektur Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Baru sebentar menjalani kuliah, ia sudah dilamar lelaki yang dikenalnya di gereja. Tanpa proses pacaran, ia menikah dengan Basuki Tjahaya Purnama atau biasa disapa Ahok (Mantan Gubernur DKI Jakarta 2014-2017) pada 6 September 1997, di usia 19 tahun. “Dia lebih tua sembilan tahun dari saya, sehingga serius ingin berumah tangga,” ujar ibu, yang dikaruniai tiga buah hati dari pernikahan ini. Alhasil ia menamatkan kuliah saat anak kedua mereka sudah lahir.
Ia dan Ahok berasal dari latar keluarga yang berbeda. Ia menyebut dirinya “orang kota”, sementara Ahok “orang kampung”. Masing-masing kondisi sosial tersebut mengandung konsekuensi. Veronica menjalani masa kecilnya yang “terasing” dari penduduk setempat. “Tapi mereka juga asing terhadap kami. Ada gap. Mereka dan kami tidak bisa menyatu,” katanya. Urusan-urusan administrasi, seperti pembuatan kartu tanda penduduk, tidak mudah bagi orang-orang Tionghoa. Proses lebih rumit.
Penyelesaian lebih panjang. Ia menyimpulkan, “Diskriminasi terasa sekali di kota.” Sementara keluarga Ahok yang tinggal di kampung dapat bergaul dengan siapa saja, termasuk dengan orang-orang dari etnis berbeda. “Sedangkan saya tinggal di kota dan hidup dalam sekat-sekat.” Ia membandingkan.
Ahok mempunyai pabrik kuarsa di kampungnya di Pulau Belitung, tapi berkantor di Jakarta. Veronica Tan pergi ke kampung Ahok tak lama sesudah mereka menikah, “Dari bandara ke kampung itu berjarak 1,5 jam, tanpa macet.” Di sana ia kaget menyaksikan kemiskinan penduduk. Lampu listrik hanya menyala di rumah orang-orang berada. Jaringan telepon tidak ada.
Meskipun Pulau Belitung kaya dengan timah, tapi pusat ekonomi serta bisnis berada di Pulau Bangka yang lebih luas dan saat itu merupakan pulau penghasil timah terbesar di dunia. Perekonomian masyarakat bertambah buruk ketika perusahaan timah mengalami kerugian total pada 1990-an, seiring anjloknya harga timah di pasar internasional.
Ia tidak menduga suaminya bakal terjun ke politik, dari menjadi anggota dewan perwakilan rakyat daerah hingga gubernur Jakarta sekarang ini. Tapi bila mengenang masa lalu Ahok, ia mengerti bagaimana ambisi itu terbentuk. Ahok telah mengalami tindak kecurangan pejabat atau penyelewengan hukum sejak ia masih pengusaha, terutama terkait prosedur perizinan. Veronica teringat kata-kata suaminya dulu, “Orang miskin jangan lawan orang kaya. Orang kaya jangan lawan pejabat. Kalau mau lawan pejabat ya harus jadi pejabat.”
Peluang itu terbuka, karena politik Indonesia telah berubah. Reformasi memberi kesempatan kepada orang-orang Tionghoa untuk berkiprah dalam politik, yang tidak terjadi di masa presiden Suharto.
Ketika Ahok menjabat bupati Belitung Timur, Veronica cemas tentang apa yang harus dilakukannya untuk mendukung sang suami. Ia tidak mengerti seluk-beluk politik, tapi Ahok juga tidak menjelaskan apa pun, “Karena dia tahu ini sebetulnya bukan dunia saya.” Kecemasan tersebut tidak berlangsung lama. Pengalaman aktif di gereja membuatnya mengerti cara berhadapan dan berkomunikasi dengan bermacam orang.
Ia juga mendukung saat dilakukan tindakan tegas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok untuk mengakhiri korupsi dalam pemerintahan, termasuk memperkarakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang membuatnya harus bersitegang dengan pihak tertentu. Namun, Veronica Tan tidak selalu sepakat dengan suaminya. “Kalau berbicara, dia memang agak kasar. Dari dulu gayanya memang blak-blakan.
Saya bilang sama dia, di saat tertentu kita harus wise. Kita tulus seperti merpati, tapi cerdik seperti ular. Dia ketawa. Saya juga mengutip amsal, ‘Jawaban yang lemah-lembut meredam kegeraman, tetapi perkataan yang tegas membangkitkan marah.’ Dia mengiyakan. Tapi kemudian begitu lagi. Sudah karakter dia seperti itu.” Tawanya berderai.
Suhu politik tanah air
Suhu politik tanah air sempat memanas pasca hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis dua tahun penjara ke Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk kasus penistaan agama.
Hanya berselang beberapa jam pasca vonis, Ahok langsung digiring ke Rumah Tahanan Cipinang sebelum akhirnya dipindahkan lagi ke tahanan Mako Brimob Depok Jawa Barat.
Ribuan pendukung dari berbagai wilayah di tanah air bahkan di sejumlah negara turun ke jalan dan menggelar aksi damai mendesak penangguhan penahanan Ahok.
Air mata tumpah. Kesedihan para pendukung dan simpatisan Ahok tak bisa terbendung.
Akan tetapi, melebihi kesedihan dan air mata para pendukung, kesedihan mendalam justru paling dirasakan istri dan ketiga anak Ahok.
Sejak terakhir kali terlihat membesuk Ahok di Rutan Cipinang pasca vonis, Veronika yang waktu itu datang dengan wajah begitu sedih didampingi putra sulungnya Nicholas Sean, kini tak lagi terlihat di hadapan publik.
Pertanyaan yang terus dilontarkan netizen di akun Instagramnya ini ikut mengusik rasa penasaran tentang sosok seorang Veronika Tan di balik kiprah Ahok selama ini.
Sebuah video wawancara dirinya berama Stasiun TV Berita Satu mengungkap sebuah fakta menarik.
Siapa sangka, sejak awal akan dinikahi Ahok, Veronika Tan taunya sang calon suami adalah seorang pengusaha. Tak pernah sedikit pun terbersit di dalam pikirannya bahwa suatu saat nanti dirinya akan menjadi seorang istri politisi, atau istri gubernur DKI Jakarta.
Pertanyaan pun kian jauh, setelah semua yang terjadi selama ini, menyesalkah Veronika Tan pernah dinikahi Ahok?
Curhat mengejutkan Veronika Tan terungkap dalam wawancara bersama presenter Berita Satu TV Rike Amru. Berikut video wawancaranya :
Dalam Female Zone kali ini, Rike Amru mengajak Anda mengenal lebih jauh dengan istri Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat. Istri Ahok, Veronica Tan dan istri Djarot, Happy Farida, blak-blakan bicara tentang kekuasaan, jabatan, kegaduhan di media sosial, sampai sifat-sifat para suaminya.
Vero : Kami biasanya nonton berita bersama di ruang keluarga
Rike : Kalau nonton di ruang keluarga, berarti anak-anak juga ikut. Terus apa tanggapan anak-anak soal pemberitaan selama ini soal Pilkada yang riuh rendah?
Vero : Gak sih. Kan ributnya di medsos. Gak usah liatin medos aja. Anak-anak tahu. Tapi kan Bapak (Ahok) udah hampir 15 tahun sebenarnya ada di politik dan pemerintahan dari zaman bupati. Jadi waktu Pilkada kurang lebih juga sama. Jadi buat anak-anak bukan hal yang baru, kaget gak sih. Mereka juga tahu bapaknya punya hati buat masyarakat. Bapaknya mau ada di pemerintahan, membantu rakyat.
Rike : Sebagai istri seorang petahana, pasion ibu sendiri apa sih, memang ke politik atau bukan?
Vero : Enggak lah. Nikahnya ama berdasi kok. Tadinya kan bapak pengusaha. Tapi di tengah perjalanan, janji nikahnya di tengah perjalanan gak bilang gak boleh merubah profesi. Di tengah perjalanan kok tiba-tiba jadi pejabat, kok jadi suka sama politik. Sebenarnya gak sih. Bukan masalah politik kalau saya lihat bapak. Memang dari keluarga bapak itu di Belitung, memang dari bapaknya, rasa sosial dan peduli terhadap masyarakat itu udah dari dulu. Makanya mungkin anaknya terpengaruh bapaknya, artinya bapak selalu bilang kalau mau bantu orang miskin, orang kaya itu gak cukup uangnya. Tapi kalau misalnya kita mau benar-benar mensejahterakan rakyat dengan uang pemerintah yang sebenarnya itu adalah hak rakyat dan kewajiban pemerintah yang memang harus diberikan. Pasion inilah yang ada di bapak. Bagi saya ini pembelajaran juga. Karena jiwanya bapak sudah begitu. Kita ya ikut saja.
Rike : Tetap tangguh bu?
Vero : Saya bilang begitu. Kita harus jalanin sih. Sebenarnya saya selalu katakan, walaupun kita berada dimana, walaupun kita berada di suatu masa yang mungkinlah setiap orang, bukan hanya soal pilkada, setiap keluarga pasti punya masalah. Tapi bagaimana kita memandang masalah itu sebagai pembelajaran bagi kita. Kedua, kita tetap bisa memilih kok. Kalau kita istilahnya terbawa terus ke dalam permasalahan atau beban, itu juga tak akan mengurangi atau menambah apapun. Tetapi pada saat kita memilih menjalaninya dengan kesungguhan. Kita bisa memilih untuk bersukacita menjalaninya. Menggerutu juga tak akan menyelesaikan apa-apa. Lebih baik kita ya hadapin aja. Tapi menghadapinya bukan berarti menghalalkan segala cara, tapi kita harus tahu yang benar yang mana, ya kita terus jalani yang benar itu.


No comments:
Post a Comment