Lawan-lawan politik Jokowi mainkan popularitas politik utang luar negeri. Jokowi tak pikir itu, SBY Malu - Indowordnews

Breaking

22 August 2017

Lawan-lawan politik Jokowi mainkan popularitas politik utang luar negeri. Jokowi tak pikir itu, SBY Malu

Lawan-lawan politik Jokowi mainkan popularitas politik utang luar negeri. Jokowi tak pikir itu, SBY Malu

Belum genap 1 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo saat itu, media sudah diramaikan dengan kabar yang memaparkan betapa besarnya peningkatan jumlah utang luar negeri Indonesia selama di bawah kepemimpinan presiden yang akrab disapa Jokowi tersebut. Bahkan banyak media yang membandingkan jumlah utang luar negeri Indonesia sekarang dengan jumlah utang di masa kepemimpinan presiden-presiden sebelumnya, yang ternyata hasil perbandingan tersebut cukup membuat mata melotot. Dilaporkan oleh banyak media bahwa jumlah utang luar negeri Indonesia sekarang bahkan sudah lebih besar dibanding gabungan jumlah utang luar negeri Indonesia di masa presiden-presiden yang sebelumnya. Tentu saja pemberitaan ini cukup membuat ramai pembicaraan di kalangan rakyat, baik di level berdasi maupun di level warung kopi.

Tidak sedikit masyarakat yang berpandangan negatif terhadap keputusan Presiden Jokowi terkait utang, bahkan di beberapa tempat sempat terjadi aksi demonstrasi yang memprotes keputusan tersebut. Ditambah lagi, bagi lawan-lawan politik Jokowi isu ini menjadi sangat seksi untuk terus digosok hingga mengkilap dan menghasilkan dampak yang besar untuk menurunkan popularitas dari Jokowi, hingga tentu saja akan menguntungkan mereka untuk bisa mengalahkan Jokowi di pemilu mendatang.

Berdasarkan data yang dilaporkan beberapa media sebelumnya bahwa, utang luar negeri Indonesia sekarang mencapai angka berkisar USD 300 miliar, tentu saja itu merupakan angka yang fantastis. Pihak pemerintah tidak tinggal diam untuk menanggapi aliran protes yang menerpa keputusan mereka. Pihak pemerintah membela diri dengan argumentasi bahwa pendanaan tersebut digunakan untuk investasi yang meningkatkan produktivitas, bukan utang yang konsumtif. Mereka juga menyatakan bahwa perhitungan sudah dilakukan dengan sangat matang, manfaat yang didapat akan jauh di atas bunga pinjaman dan ongkos pendanaan. Bila melihat detail apa saja yang menjadi sasaran dari dana pinjaman tersebut, argumentasi yang diberikan terlihat sangat logis, walaupun banyak juga yang berpikir hal tersebut menjadi terlihat tidak logis dan terlalu ambisius karena dilakukan di saat kondisi ekonomi dunia sedang kacau. Sasaran penggunaan dana tersebut mayoritas adalah untuk investasi pembangunan infrastruktur yang akan menunjang dan mesin pendorong  rencana besar pergerakan ekonomi Indonesia di masa depan. Beberapa yang menjadi sasaran investasi pendanaan adalah pembangunan rel kereta, pelabuhan, bendungan, pembangkit listrik dan lainnya.

Melihat begitu banyak hal yang direncanakan untuk dibangun di masa pemerintahan Presiden Jokowi, mau tidak mau seperti menyadarkan banyak pihak bahwa selama ini negara Indonesia seperti tertidur dalam konsteks pembangunan infrastruktur. Tentu saja mau tidak mau sorotan akan tertuju pada presiden sebelumnya, yaitu Susilo Bambang Yodhoyono, atau biasa kita sebut Pak SBY. Pak SBY memimpin Indonesia selama dua periode pemerintahan, yaitu selama 10 tahun. Tentu saja itu bukanlah sebuah rentang waktu yang sebentar. Dengan banyaknya rencana pembangunan yang akan dilakukan di masa pemerintahan Presiden Jokowi, tentu saja secara otomatis akan membuat orang bertanya-tanya, “kalau begitu, dulu Pak SBY ngapain aja selama jadi presiden?”.

Fakta yang terungkap tentang besarnya utang luar negeri pada pemerintahan Presiden Jokowi ini, selain cukup menurunkan popularitas politik Sang Presiden, juga menghantam cukup telak mantan presiden SBY dan mungkin akan cukup membuat “malu” beliau.

Bagi Presiden Jokowi, menurunnya popularitas politik akibat utang luar negeri sepertinya tidak akan terlalu dipikirkan. Karena bila kita melihat ke belakang, ketika beliau memimpin Jakarta bersama Pak Ahok, memang begitulah gaya kepemimpinan seorang Jokowi yang mengutamakan realita kebutuhan dibandingkan pertimbangan popularitas. Gaya tersebutlah yang justru membuat sosok Jokowi “laku” karena terlihat sebagai pemimpin yang benar-benar mengutamakan kinerja dibanding berpolitik. Namun bagi SBY, hantaman malu karena terpaksa jadi “terlihat tidak bekerja apa-apa selama memimpin” ini cukup membuat dirinya resah. Pengalihan perhatian masyarakat kepada data-data bahwa  Indonesia bisa bebas utang IMF saat berada di bawah kepemimpianan beliau sepertinya menjadi cara yang dipilih. Fakta tersebut sepertinya dipilih untuk diluncurkan agar pemikiran masyarakat  menjadi tidak otomatis membandingkan pembangunan infrastruktur di masa pemerintahannya dan di masa pemerintahan Presiden Jokowi, yang tentu saja bila perbandingan itu dilakukan masyarakat maka akan membuat mantan Presiden SBY menjadi “malu”.



Abyandra Zya scientist, tapi juga menekuni segala hal tentang sepakbola modern. twitter: @abytabligh...Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di kompasiana, 27 September 2015


(Embo)

No comments:

Post a Comment