Media-media mainstream yang semula pro atas aksi berjilid sangat getol memberitakan beberapa klise pemerintahan di era Jokowi.
Setelah beberapa aktornya yang berdamai dengan situasi periode kepemimpinan, beruntunglah nasibnya akhirnya suara media massanya mengakui kalau grub pelaku hoax dan ujaran kebencian itu memang ada dan berada di pihak radikalis.
Di lini massa, siapa kah yang kanibalis dalam menyebar info hoax dan hate speech. Mungkin anda pernah mendengar jika Rizieq kerap berujar tentang Buzzer Ahokers. Tapi kenyataan berkata lain, ternyata kaum 'sakit hati'sejak Pilpres 2014 menjelang 2019 lah yang memulai banyak peran sejak November 2015 lalu mereka memesan kelompok serang lini massa untuk menyebarkan info kebohongan demi meruntuhkan kepemimpinan sipil (Jokowi-Jk).
Yang menerima pesan pun ternyata alim keilmuannya yang lapar atas uang mau melakukan sindikat ujaran kebencian. Akibat kemiskinan lah warga ini melakukan proyeksi diluar koridor kehalalannya. Yang salah dibuka selebar-lebarnya, karena sakit hati telah menutup mata kebenarannya.
Banyak kaum 'sumbu pendek' dan pendengki pemerintahan Jokowi kerap berujar tentang PKI, Asing Aseng, bahkan mengawur dengan mengungkapkan data kabar angin dengan istilah "A1", mereka kerap memperkuat argumennya, iya ini fakta bahkan sudah A1 bahwa kita diserang Asing, Tiongkok dan lain lainnya, mereka menguber ketakutan massa akan dirongrongnya negeri ini sejak Jokowi, yang semuanya mengandung berita bohong. Itulah akhirnya pelaku hate speech doyan kibul sana sini dengan Hoaxer yang dianggap senjata ampuh guna mencibir Jokowi.
Dan satu hal lagi, grub tetangga sebelah mana yang paling sadis? Ternyata, grub NKRI harga mati ternyata masih aman belum terungkap kasus kasus satu pun yang menjelekkan pemerintah dan negara. Dengan terbongkarnya SARACEN, kita sadar ternyata memang lini sebelah lah yang paling berulah, siapa lagi kalau kelompok sakit hati sejak demo berjilid jilid berlangsung. Beruntung, jika anda masih berpihak di ranah netral, dan sekali kali dukung Jokowi, Aman tidak tertangkap basah.
Beruntung pula pro Ahokers yang jarang berlaku sarkas dan banal dalam statement media sosial. Kaum Izieq dan CS lah ternyata biangnya. Bagaimana dengan Wowo? Tunggu kabar selanjutnya. Grub - grub sejak gaung Pilkada diteliti secara detail penuh caci-maki hingga kafir dan memunafikan kelompok lain. Mungkin pernah kalah argument akhirnya bisa jadi kelakuan Hoaxer nya lah yang bergeming.
Ohya, ini berita Sindo, arahan dari CEO MNC grub. Bahwa media ini sebelumnya rada-rada berpihak di kawasan 'kaum nyinyir' namun diperhatikan sedikit kemari telah berubah mainstream pemberitaan medianya akankah sedikit kembali netral.
Contohnya berita berikut ini dari OkeZone:
"Banyak pihak mengapresiasi Polri yang berhasil mengungkap kelompok Saracen, yakni sindikat penyebar kebencian dan berita bohong (hoax) yang menggunakan sarana media sosial.
Meski begitu, penegakan hukum diharapkan terus berlanjut ke semua situs dan akun-akun media sosial pembuat dan penyebar berita hoax, tak hanya di Saracen saja.
"Saat ini pun masih banyak situs-situs dan akun yang aktif menyebarkan hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Masih ada jaringan-jaringan serupa Saracen yang mengambil keuntungan finansial sebagai operator hoax," ujar Anggota Komisi I DPR RI, Charles Honoris kepada wartawan, Jumat (25/8/2017).
Charles mengaku mendapatkan informasi bahwa ada jutaan akun dan puluhan ribu situs hoax yang sudah disiapkan untuk menghadapi Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019.
Dikatakannya, hal itu dapat mengganggu iklim demokrasi yang sehat menjelang pilkada dan pemilu, dan bahkan mengancam persatuan bangsa. Sehingga penyebaran hoax dan ujaran kebencian, termasuk dalam pelanggaran pidana yang telah diatur dalam Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
"Oleh karena itu, saya berharap Polri terus melanjutkan pengungkapan dan penangkapan jaringan-jaringan lain yang menyebarkan ujaran kebencian dan hoax di media sosial," jelas Charles.
Politikus PDI Perjuangan itu mengungkapkan ujaran kebencian adalah awal mula adanya aksi intoleran yang dapat memicu konflik horizontal, menyuburkan radikalisme bahkan aksi-aksi terorisme.
Masalah ini, lanjut Charles harus dilawan bersama, baik oleh masyarakat maupun aparat penegak hukum yang bekerja sesuai aturan yang berlaku.
"Ujaran kebencian harus kita lawan bersama, ditunggu pengungkapan dan penangkapan selanjutnya," tegasnya.
Di perhatiin saat ini sindo sedikit akurat, tanpa lagi bermain bisnis merebut suara sebelah. Entah, dilini pemberitaan lain apakah media ini selalu netral? Dari sekian yang dibaca dan dikabari, Sindo, oke, MNC sudah ongkir netralitasnya setelah HT berdamai dalam sikon....
(embo)
Setelah beberapa aktornya yang berdamai dengan situasi periode kepemimpinan, beruntunglah nasibnya akhirnya suara media massanya mengakui kalau grub pelaku hoax dan ujaran kebencian itu memang ada dan berada di pihak radikalis.
Di lini massa, siapa kah yang kanibalis dalam menyebar info hoax dan hate speech. Mungkin anda pernah mendengar jika Rizieq kerap berujar tentang Buzzer Ahokers. Tapi kenyataan berkata lain, ternyata kaum 'sakit hati'sejak Pilpres 2014 menjelang 2019 lah yang memulai banyak peran sejak November 2015 lalu mereka memesan kelompok serang lini massa untuk menyebarkan info kebohongan demi meruntuhkan kepemimpinan sipil (Jokowi-Jk).
Yang menerima pesan pun ternyata alim keilmuannya yang lapar atas uang mau melakukan sindikat ujaran kebencian. Akibat kemiskinan lah warga ini melakukan proyeksi diluar koridor kehalalannya. Yang salah dibuka selebar-lebarnya, karena sakit hati telah menutup mata kebenarannya.
Banyak kaum 'sumbu pendek' dan pendengki pemerintahan Jokowi kerap berujar tentang PKI, Asing Aseng, bahkan mengawur dengan mengungkapkan data kabar angin dengan istilah "A1", mereka kerap memperkuat argumennya, iya ini fakta bahkan sudah A1 bahwa kita diserang Asing, Tiongkok dan lain lainnya, mereka menguber ketakutan massa akan dirongrongnya negeri ini sejak Jokowi, yang semuanya mengandung berita bohong. Itulah akhirnya pelaku hate speech doyan kibul sana sini dengan Hoaxer yang dianggap senjata ampuh guna mencibir Jokowi.
Dan satu hal lagi, grub tetangga sebelah mana yang paling sadis? Ternyata, grub NKRI harga mati ternyata masih aman belum terungkap kasus kasus satu pun yang menjelekkan pemerintah dan negara. Dengan terbongkarnya SARACEN, kita sadar ternyata memang lini sebelah lah yang paling berulah, siapa lagi kalau kelompok sakit hati sejak demo berjilid jilid berlangsung. Beruntung, jika anda masih berpihak di ranah netral, dan sekali kali dukung Jokowi, Aman tidak tertangkap basah.
Beruntung pula pro Ahokers yang jarang berlaku sarkas dan banal dalam statement media sosial. Kaum Izieq dan CS lah ternyata biangnya. Bagaimana dengan Wowo? Tunggu kabar selanjutnya. Grub - grub sejak gaung Pilkada diteliti secara detail penuh caci-maki hingga kafir dan memunafikan kelompok lain. Mungkin pernah kalah argument akhirnya bisa jadi kelakuan Hoaxer nya lah yang bergeming.
Ohya, ini berita Sindo, arahan dari CEO MNC grub. Bahwa media ini sebelumnya rada-rada berpihak di kawasan 'kaum nyinyir' namun diperhatikan sedikit kemari telah berubah mainstream pemberitaan medianya akankah sedikit kembali netral.
Contohnya berita berikut ini dari OkeZone:
"Banyak pihak mengapresiasi Polri yang berhasil mengungkap kelompok Saracen, yakni sindikat penyebar kebencian dan berita bohong (hoax) yang menggunakan sarana media sosial.
![]() |
| Charles Honoris Mengatakan Masih Banyak Jaringan Serupa seperti Saracen (Foto: Okezone) |
"Saat ini pun masih banyak situs-situs dan akun yang aktif menyebarkan hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Masih ada jaringan-jaringan serupa Saracen yang mengambil keuntungan finansial sebagai operator hoax," ujar Anggota Komisi I DPR RI, Charles Honoris kepada wartawan, Jumat (25/8/2017).
Charles mengaku mendapatkan informasi bahwa ada jutaan akun dan puluhan ribu situs hoax yang sudah disiapkan untuk menghadapi Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019.
Dikatakannya, hal itu dapat mengganggu iklim demokrasi yang sehat menjelang pilkada dan pemilu, dan bahkan mengancam persatuan bangsa. Sehingga penyebaran hoax dan ujaran kebencian, termasuk dalam pelanggaran pidana yang telah diatur dalam Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
"Oleh karena itu, saya berharap Polri terus melanjutkan pengungkapan dan penangkapan jaringan-jaringan lain yang menyebarkan ujaran kebencian dan hoax di media sosial," jelas Charles.
Politikus PDI Perjuangan itu mengungkapkan ujaran kebencian adalah awal mula adanya aksi intoleran yang dapat memicu konflik horizontal, menyuburkan radikalisme bahkan aksi-aksi terorisme.
Masalah ini, lanjut Charles harus dilawan bersama, baik oleh masyarakat maupun aparat penegak hukum yang bekerja sesuai aturan yang berlaku.
"Ujaran kebencian harus kita lawan bersama, ditunggu pengungkapan dan penangkapan selanjutnya," tegasnya.
Di perhatiin saat ini sindo sedikit akurat, tanpa lagi bermain bisnis merebut suara sebelah. Entah, dilini pemberitaan lain apakah media ini selalu netral? Dari sekian yang dibaca dan dikabari, Sindo, oke, MNC sudah ongkir netralitasnya setelah HT berdamai dalam sikon....
(embo)


No comments:
Post a Comment