Masyarakat ini butuh lagi belajar, di mana belajar termasuk membaca adalah jendela ilmu, baca sejarah dan imbangi pengetahuan geografis dan geopolitik saat ini...Be a Positive Man!!! Saat ini negara-negara berkembang dan maju murni menggiatkan perekonomian bagaimana kehidupan dan siklusnya ini berjalan stabil.
Tak perlu Anda, kita semua takut melihat masa depan seperti apa. Isu-isu murahan yang menggagalkan impian adalah monster yang membinasakan didalam tempurung kepala kaum negator!..Cina, Jepang, Amerika juga manusia.
Sebuah kesimpulan survei mahasiswi jurusan Bahasa Indonesia pada Universitas Bahasa Asing Beijing (BFSU) tersebut menyatakan bahwa masih banyak orang China yang kurang mengenal Indonesia secara utuh. Dalam diskusi bertajuk Indonesia Dari Sisi Pandang China, yang diselenggarakan KBRI Beijing dan Perhimpunan Mahasiswa-Pelajar Indonesia Tiongkok (Permit) Beijing bahkan terungkap fakta klasik terkait pandangan orang China tentang Indonesia. Generasi muda China bahkan ada yang mewarisi pengetahuan serta pengalaman psikologis orang tua, kakek neneknya, tentang peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI) dan peristiwa Mei 1998, dimana akibat peristiwa politik itu, banyak warga keturunan Tionghoa yang eksodus ke China, dan beberapa negara. Klik Sumber
Nah, untuk isu Cina ini yang lebih mengerikan. “Dosa-dosa” keturunan Cina di Indonesia diungkit-ungkit, didedah, seolah-olah berkulit kuning dan bermata sipit adalah tanda seorang penjahat. Dengan pengobaran sentimen semacam ini, seolah bangsa Indonesia diingatkan bahwa keturunan Cina bukanlah bagian dari mereka. Kebencian disulut kembali. Prasangka, kecemburuan semu, dan dendam olahan disebarkan dalam masyarakat. Isu ini tidak hanya mengakibatkan Ahok saja yang ditatap dalam tuduhan, tapi seluruh keturunan Cina di Indonesia. Atau tepatnya, semua yang tampak dan mirip keturunan Cina.
Itulah sebabnya saya selalu tak suka bila ada keturunan Cina maju ke pentas politik. Kampanye negatif yang (pasti) digencarkan musuh politiknya bukan hanya mengincar ia sebagai pribadi, tapi juga semua keturunan Cina di Indonesia. Apa daya, kesipitan mata dan kekuningan kulit tidak selalu dapat disembunyikan oleh logat medok saya [disini].
Bagi Etnis apapun itu yang dirinya dalam kategori tidak akan pernah sukses/belum sukses/susah sukses. Sekian banyak resep sukses orang TiongHoa di Indonesia serta menuliskan cara berpikir orang-orang yang tidak bisa sukses di Indonesia berdasarkan cara kalian merespon thread-thread tetangga yang berujung SARA, Diskriminasi Agama, Diskriminasi Ras, Diskriminasi Ekonomi/Jenjang Hidup.
Kekuatiran sebagian anak bangsa di negeri ini cukup menjadi momok penyakit yang bisa akut, bahkan membuat dirinya stagnan pada kondisi biasa-biasa saja. Negara lain telah gegap gempita menuju kemajuan global, namun kita kerap dihantui Masa depan.
Anggota Tim Quality Assurance Reformasi Birokrasi Nasional, Indra J Piliang, meragukan kabar tenaga kerja asing (TKA) asal China yang tidak hanya bekerja di Indonesia, tapi punya tujuan untuk melakukan invasi.
Indra menolak penyataan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (KSPSI) Jumhur Hidayat. Jumhur menyebut banyaknya tenaga kerja asing (TKA) asal China yang ada di Indonesia bukan sekedar punya misi bisnis, melainkan bertujuan untuk invansi.
"Kekhawatiran China jajah Indonesia, sepanjang saya belajar sejarah, China itu tidak punya tradisi invasi, tapi perdagangan iya," kata Indra dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta 2016 lalu.
Menurut Indra, TKA asal China telah terjadi sejak sejak dahulu, sebelum Indonesia merdeka. Bahkan, lanjut dia, saat itu, jumlah TKA lebih banyak dibanding hari ini.
"Hampir semua daerah ada. Pariaman misalnya, mereka datang dengan bawa budayanya," ujar lulusan S1 Jurusan Sejarah di Universitas Indonesia itu di muat Kompas.com.
Indra menyebutkan, dalam sejarahnya, China justru diinvasi oleh Mongolia. Mongolia bahkan sempat berlayar ke Majapahit. Pernyataan Indra J Piliang ini (walau ia kini terkena kasus) ada benarnya. Sejarah penjajahan di Indonesia tidak pernah dibukukan dalam sejarah bahwa China doyan menginvasi.
Hari ini, pemikiran para kaum sumbu pendek dan antek-antek gerakan radikal kerap mengisukan trending ini. Kita tak perlu mendengar, mengikuti arahannya itu, hidup mereka toh biasa-biasa saja.
Presiden Joko Widodo sebelumnya juga telah mengklarifikasi isu terkait serbuan tenaga kerja China ke Indonesia.
Jokowi membantah bahwa tenaga kerja asal China yang masuk ke Indonesia jumlahnya mencapai puluhan juta. Dia menegaskan bahwa tenaga kerja China di Indonesia saat ini hanya berjumlah 21.000 orang.
Menurut Jokowi, jumlah itu sangat kecil dibandingkan jumlah tenaga kerja Indonesia di negara lain. Di Malaysia, misalnya, TKI mencapai 2 juta orang. Adapun di Hongkong mencapai 153.000 orang.
"Hitungan kita 21.000 itu sangat kecil sekali. Jangan ditambahi nol terlalu banyak," ucap Jokowi.
Jokowi mengakui bahwa ada target dari pemerintah untuk mendatangkan turis dari China sebesar 10 juta orang.
Mr. Jokowi sudah pernah menyayangkan ada pihak yang memelesetkan dari target turis itu menjadi jumlah tenaga kerja asal China. Sesekali kita harus berani mengatakan bodoh dan sapi, supaya mereka tau kita tidak hanya bisa mengklarifikasi. Sama lah seperti kapal-kapal China itu, sesekali harus ditembak. Kalau diprotes, datangi TKP, Natuna. Biar rame.
Saya berpikir begini, seword.com ini tidak mungkin ditutup atau dituntut hanya karena beropini dengan benar, meskipun keras dan menohok. Sebab jika media fitnah seperti posmetro, jonru, dan label-label islam tidak ditindak, mengapa kita yang benar mau ditindak? Kalaupun mau ditindak ya mari bikin rame, sekalian perang.
Dunia perdagangan penuh dengan persaingan keras dengan berbagai macam cara. Oleh karena itu pedagang harus mempersiapkan dirinya dengan seni bela diri perdagangan untuk menghadapi serangan dalam bentuk apapun dan kemungkinan yang akan datang. Sementara, budaya dagang orang Cina mengutamakan kecepatan dalam bertindak, hal ini penting seperti siapa cepat dia dapat dalam segala kondisi. Orang Indonesia sebagian ingin zona nyaman, tekadang lamban merespon jaman, sekitar 70% begitu kira-kira.
Tulisan apa adanya, merangkup segenap tulisan yang kiranya penulis anggap paling tepat untuk memahami sisi buruk dan baiknya demokrasi dan situasi geopolitik saat ini. Bagi kita yang Waras!
[embo]
Tak perlu Anda, kita semua takut melihat masa depan seperti apa. Isu-isu murahan yang menggagalkan impian adalah monster yang membinasakan didalam tempurung kepala kaum negator!..Cina, Jepang, Amerika juga manusia.
Sebuah kesimpulan survei mahasiswi jurusan Bahasa Indonesia pada Universitas Bahasa Asing Beijing (BFSU) tersebut menyatakan bahwa masih banyak orang China yang kurang mengenal Indonesia secara utuh. Dalam diskusi bertajuk Indonesia Dari Sisi Pandang China, yang diselenggarakan KBRI Beijing dan Perhimpunan Mahasiswa-Pelajar Indonesia Tiongkok (Permit) Beijing bahkan terungkap fakta klasik terkait pandangan orang China tentang Indonesia. Generasi muda China bahkan ada yang mewarisi pengetahuan serta pengalaman psikologis orang tua, kakek neneknya, tentang peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI) dan peristiwa Mei 1998, dimana akibat peristiwa politik itu, banyak warga keturunan Tionghoa yang eksodus ke China, dan beberapa negara. Klik Sumber
Nah, untuk isu Cina ini yang lebih mengerikan. “Dosa-dosa” keturunan Cina di Indonesia diungkit-ungkit, didedah, seolah-olah berkulit kuning dan bermata sipit adalah tanda seorang penjahat. Dengan pengobaran sentimen semacam ini, seolah bangsa Indonesia diingatkan bahwa keturunan Cina bukanlah bagian dari mereka. Kebencian disulut kembali. Prasangka, kecemburuan semu, dan dendam olahan disebarkan dalam masyarakat. Isu ini tidak hanya mengakibatkan Ahok saja yang ditatap dalam tuduhan, tapi seluruh keturunan Cina di Indonesia. Atau tepatnya, semua yang tampak dan mirip keturunan Cina.
Itulah sebabnya saya selalu tak suka bila ada keturunan Cina maju ke pentas politik. Kampanye negatif yang (pasti) digencarkan musuh politiknya bukan hanya mengincar ia sebagai pribadi, tapi juga semua keturunan Cina di Indonesia. Apa daya, kesipitan mata dan kekuningan kulit tidak selalu dapat disembunyikan oleh logat medok saya [disini].
Bagi Etnis apapun itu yang dirinya dalam kategori tidak akan pernah sukses/belum sukses/susah sukses. Sekian banyak resep sukses orang TiongHoa di Indonesia serta menuliskan cara berpikir orang-orang yang tidak bisa sukses di Indonesia berdasarkan cara kalian merespon thread-thread tetangga yang berujung SARA, Diskriminasi Agama, Diskriminasi Ras, Diskriminasi Ekonomi/Jenjang Hidup.
Kekuatiran sebagian anak bangsa di negeri ini cukup menjadi momok penyakit yang bisa akut, bahkan membuat dirinya stagnan pada kondisi biasa-biasa saja. Negara lain telah gegap gempita menuju kemajuan global, namun kita kerap dihantui Masa depan.
Anggota Tim Quality Assurance Reformasi Birokrasi Nasional, Indra J Piliang, meragukan kabar tenaga kerja asing (TKA) asal China yang tidak hanya bekerja di Indonesia, tapi punya tujuan untuk melakukan invasi.
Indra menolak penyataan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (KSPSI) Jumhur Hidayat. Jumhur menyebut banyaknya tenaga kerja asing (TKA) asal China yang ada di Indonesia bukan sekedar punya misi bisnis, melainkan bertujuan untuk invansi.
"Kekhawatiran China jajah Indonesia, sepanjang saya belajar sejarah, China itu tidak punya tradisi invasi, tapi perdagangan iya," kata Indra dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta 2016 lalu.
Menurut Indra, TKA asal China telah terjadi sejak sejak dahulu, sebelum Indonesia merdeka. Bahkan, lanjut dia, saat itu, jumlah TKA lebih banyak dibanding hari ini.
"Hampir semua daerah ada. Pariaman misalnya, mereka datang dengan bawa budayanya," ujar lulusan S1 Jurusan Sejarah di Universitas Indonesia itu di muat Kompas.com.
Indra menyebutkan, dalam sejarahnya, China justru diinvasi oleh Mongolia. Mongolia bahkan sempat berlayar ke Majapahit. Pernyataan Indra J Piliang ini (walau ia kini terkena kasus) ada benarnya. Sejarah penjajahan di Indonesia tidak pernah dibukukan dalam sejarah bahwa China doyan menginvasi.
Hari ini, pemikiran para kaum sumbu pendek dan antek-antek gerakan radikal kerap mengisukan trending ini. Kita tak perlu mendengar, mengikuti arahannya itu, hidup mereka toh biasa-biasa saja.
Presiden Joko Widodo sebelumnya juga telah mengklarifikasi isu terkait serbuan tenaga kerja China ke Indonesia.
Jokowi membantah bahwa tenaga kerja asal China yang masuk ke Indonesia jumlahnya mencapai puluhan juta. Dia menegaskan bahwa tenaga kerja China di Indonesia saat ini hanya berjumlah 21.000 orang.
Menurut Jokowi, jumlah itu sangat kecil dibandingkan jumlah tenaga kerja Indonesia di negara lain. Di Malaysia, misalnya, TKI mencapai 2 juta orang. Adapun di Hongkong mencapai 153.000 orang.
"Hitungan kita 21.000 itu sangat kecil sekali. Jangan ditambahi nol terlalu banyak," ucap Jokowi.
Jokowi mengakui bahwa ada target dari pemerintah untuk mendatangkan turis dari China sebesar 10 juta orang.
Mr. Jokowi sudah pernah menyayangkan ada pihak yang memelesetkan dari target turis itu menjadi jumlah tenaga kerja asal China. Sesekali kita harus berani mengatakan bodoh dan sapi, supaya mereka tau kita tidak hanya bisa mengklarifikasi. Sama lah seperti kapal-kapal China itu, sesekali harus ditembak. Kalau diprotes, datangi TKP, Natuna. Biar rame.
Saya berpikir begini, seword.com ini tidak mungkin ditutup atau dituntut hanya karena beropini dengan benar, meskipun keras dan menohok. Sebab jika media fitnah seperti posmetro, jonru, dan label-label islam tidak ditindak, mengapa kita yang benar mau ditindak? Kalaupun mau ditindak ya mari bikin rame, sekalian perang.
Dunia perdagangan penuh dengan persaingan keras dengan berbagai macam cara. Oleh karena itu pedagang harus mempersiapkan dirinya dengan seni bela diri perdagangan untuk menghadapi serangan dalam bentuk apapun dan kemungkinan yang akan datang. Sementara, budaya dagang orang Cina mengutamakan kecepatan dalam bertindak, hal ini penting seperti siapa cepat dia dapat dalam segala kondisi. Orang Indonesia sebagian ingin zona nyaman, tekadang lamban merespon jaman, sekitar 70% begitu kira-kira.
Tulisan apa adanya, merangkup segenap tulisan yang kiranya penulis anggap paling tepat untuk memahami sisi buruk dan baiknya demokrasi dan situasi geopolitik saat ini. Bagi kita yang Waras!
[embo]

No comments:
Post a Comment