Tetap berdiri tegak ditengah fundamentalisme (paham dasar mayoritas keagamaan) Indonesia yang TERUS merayap...
![]() |
| Basuki Tjahaja Purnama |
Nama-nama yang masuk dalam daftar 'Pemikir Ulang Global' 2017 tersebut adalah para pemimpin terkemuka dan intelektual dunia hasil pilihan majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat.
"Tahun ini, Foreign Policy dengan bangga mempersembahkan Global reThinkers -- para legislator, teknokrat, komedian, advokat, pengusaha, pembuat film, presiden, provokator, tahanan politik, periset, ahli strategi, dan visioner yang secara bersama-sama menemukan cara yang luar biasa, tak hanya untuk memikirkan kembali dunia kita yang baru dan aneh ini, tapi juga membentuknya kembali.
Mereka adalah orang-orang yang bertindak, yang mendefinisikan 2017," demikian dikutip dari situs Foreign Policy.
![]() |
| Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memberikan pernyataan setelah memberikan suara dalam pemilihan gubernur Jakarta pada 15 Februari di Jakarta. (Oscar Siagian/Getty Images) |
Dalam waktu kurang dari tiga tahun, dia berlatar belakang dari legislator yang mewakili Belitung Timur, sebuah kabupaten kecil, menuju Gubernur Jakarta, Daerah Ibu Kota.
Selain Ahok sejumlah nama-nama besar dunia masuk dalam daftar. Ada Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Gambia Adama Barrow, juga Dubes AS untuk PBB, Nikki Haley.
Ada pula dalam daftar mantan tangan kanan Donald Trump, Steve Bannon; prajurit transgender yang membocorkan rahasia AS, Chelsea Manning; seniman Ai Wei Wei; juga Leila de Lima, senator Filipina yang menjadi pengkritik terdepan Presiden Rodrigo Duterte.
"Untuk tetap berdiri di tengah fundamentalisme yang sedang bertumbuh di Indonesia," demikian alasan Foreign Policy memilih Ahok.
![]() |
| Illustration by Adam Simpson |
"Ia bermulut tajam, keturunan Tionghoa, dan seorang Protestan di negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia," kata Soloway.
Pada awalnya, dia menambahkan, latar belakang Ahok tak menjadi masalah. Namun, situasi berbalik pada 2017.
Gara-gara sebuah pidatonya, Ahok dinyatakan bersalah dalam kasus penistaan agama, kalah dalam pilkada, dan akhirnya dipenjara.
Di sisi lain, Soloway menyoroti apa yang dilakukan dalam tiga tahun Ahok memerintah di Jakarta. Ia melawan korupsi, memperluas akses warga pada layanan kesehatan dan sosial lainnya, mengeruk kanal, memperbaiki transportasi publik, dan melakukan kampanye untuk membersihkan birokrasi yang membuatnya mendapatkan tingkat penerimaan publik yang tinggi.
Meski prestasinya diakui, kebiasaan memarahi birokrat yang tidak kompeten mendapat pujian luas, di sisi lain ia punya banyak musuh. Terutama mereka yang digusur untuk membuka jalan bagi reklamasi dan proyek pembangunan lain.
Soloway menambahkan, saat Ahok divonis pidana, para pendukungnya menggelar aksi protes, tak hanya di seluruh Indonesia, tapi juga di sejumlah titik dunia. PBB dan organisasi HAM Human Rights Watch juga mengutuk pemidanaan tersebut.
Mengutip perkataan Andreas Harsono dari Human Rights Watch [sumber], pemenjaraan Ahok dianggap sebagai seruan yang membangunkan (wakeup call) bagi rakyat Indonesia: bahwa ada masalah serius soal kebebasan beragama dan diskriminasi terhadap kaum minoritas di Tanah Air.
Dengan kehilangan kebebasannya, Ahok mungkin mendorong orang lain untuk mengarahkan negara kembali ke 'jalan tengah'.
Ahok pertama mendapat perhatian nasional sebagai wakil gubernur Jakarta, sebelumnya, Joko Widodo (yang dikenal sebagai Jokowi), mantan pengusaha kecil dengan usaha sederhana yang kemudian menjadi presiden Indonesia pada tahun 2014.
Sebelumnya, pada 2013, Joko Widodo alias Jokowi juga masuk ke dalam daftar The Leading Global Thinkers of 2013 versi Foreign Policy.
Kala itu, Jokowi masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ahok menjadi wakilnya.
Di Jakarta, Jokowi dan Ahok membudidayakan Dinamika yang bebas: Keengganan Ahok dan kepekaan teknokratik menyeimbangkan populisme inspirasional Jokowi, kata Benjamin Soloway adalah editor asosiasi Kebijakan Luar Negeri.
Ketika Jokowi mengundurkan diri untuk mencalonkan diri sebagai presiden, Ahok menjadi gubernur, dan menduduki jabatan penuh setelah Jokowi memenangkan pemilihan.
Sumber:
http://m.liputan6.com/global/read/3186025/ahok-masuk-daftar-global-rethinkers-2017
https://gt.foreignpolicy.com/2017/?92cb47faa7=
https://gt.foreignpolicy.com/2017/profile/basuki-tjahaja-purnama-ahok
[mk]



No comments:
Post a Comment