![]() |
| Foto: Amirudin ajak anak-istri bersepeda ke Reuni 212. (detikcom). |
Namun ghirah ini justeru paling heboh bagi umat muslim yang terkadang ada ajakan Ghirah harus marah besar apabila marwah Islam dilecehkan. Hal ini, bisa dikaitkan dengan kasus penistaan agama pada musim pilkada lalu yang dituduhkan terhadap Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.
Tentu, itu adalah tafsir yang galak. Sedangkan saya, mana bisa menjadi segalak itu. Menjaga marwah islam dengan jendral api kemarahan, rasanya sangat berat bagi saya. Saya lebih cenderung mengamini beberapa penjelasan Buya Hamka. Cerita ghirah islam dengan cara santun. Seperti analogi tadi. Keberanian untuk menggebuk itu saja sudah ngeri. Terutama membunuh, kata Rakhmad Hidayatulloh Permana [disini].
Katakanlah tidak sampai membunuh akibat semangat berlebih dalam kefanatisan, namun jika hingga mengorbankan waktu dan anak-isteri, sementara seruan seperti reuni alumni 212 ini terkesan memiliki misi politik. Kita pandai memikirkannya dan memilah mana Ghirah yang sesungguhnya atau sekedar ajakan dan seruan demi kepentingan nyata kaum yang haus kekuasasaan belaka.
Salah satunya, Amirudin seseorang alumni 212 yang berkesempatan hadir di Lapangan Monas Sabtu (2/12/17) lalu. Berbeda dari tahun sebelumnya, dia sampai di Monas setelah menempuh puluhan kilometer dengan mengayuh sepeda.
Masalah Ahok terkait penistaan agama, konteksnya adalah tepat atau tidak, itu memang menyasar oknum-oknum tamak, yang sedari awal seperti itu kerap menggoyang Ahok.
Jika ia menistakan, tentu kata Din Syamsuddin, justeru nilai Islam itu sendiri pun tidak berkurang, mau jutaan orang yang menghina agama kita, sekalipun itu hingga langit runtuh, tak secuilpun nilai keagamaan itu merosot, karena inti agama adalah mengajak berbuat baik, meluruskan hati dari berpalingnya nafsu baik menuju nafsu bejat.
Amirudin berangkat dari Tanggerang menuju Monas sejak Jum'at sore. Dia mengajak istrinya, Latifatul Khoirih (32), putri pertamanya yang bernama Mulia Syaroh (13), dan si bontot Aska (7).
Saat Magrib dan Isya sampai ke Monas dan istirahat tidur di Istiqlal, berangkat lagi jam 03.00 pagi menurut kata Amirudin kepada detikcom di lokasi Reuni 212, Monas, Jakarta Pusat.
![]() |
| Foto: Amirudin ajak anak-istri bersepeda ke Reuni 212. (detikcom). |
"Nggak rewel, anteng dua-duanya," ujarnya.
Amirudin menjelaskan alasannya datang ke Reuni 212 menggunakan sepeda. Sebab bila menggunakan transportasi kereta, anak-anaknya kesulitan bernafas karena banyak orang di stasiun.
"Dulu pernah ikut aksi sebelumnya naik kereta. Setiap stasiun transit selalu penuh akhirnya naik sepeda saja karena susah nafas kalau naik kereta," cerita Amirudin.
Sepeda yang digunakan keluarga kecil ini memiliki boncengan di bagian belakang. Putra Amirudin yang paling kecil duduk di posisi depan, sementara di belakang ada sang istri dan putrinya.
"Ini mau jalan pulang udah pada lelah," tuturnya seraya meninggalkan Monas.
Dari fenomena Amiruddin ini kita bisa memberikan pujian terkait semangatnya hingga mengorbankan waktu dan tidak memikirkan kelelahan anak-isterinya yang dipaksa mengayuh sepeda dalam kondisi tanpa banyak persiapan.
Jika melihat kondisi tersebut, miris bercampur hiba terhadap anak-anaknya yang masih belum mengerti diajak kemana arah terhanyut. Namun jika sekedar berwisata (melihat-lihat Monas karena terbuka untuk umum, gratis) barangkali alasan itu tepat sekali, sebab kedua anaknya berharap bisa merasa suasana baru sepanjang perjalanan. Akan tetapi ada hal-hal yang berlaku terkait masalah ini ialah, upaya orang tua dalam hal perlindungan anak yang diayomi negara.
Namun yang paling tidak berkesan ialah, seruan semacam ini seolah sudah dianggap jihad, apabila oknum tertentu mengajak massa dengan sebuah imajinasi harapan syahid jika apapun terjadi kala menghadiri acara yang terkadang memiliki resiko riuh-rendah dan dibarengi kepentingan politik yang sangat nyata.
![]() |
| Pria berkostum 'Wiro Sableng 212' hadir di Reuni 212. Foto: Ibnu Hariyanto/detikcom |
Para populis, gemar menebar sentimen antiparpol dan kebencian pada politik perwakilan. Titik akhirnya, sadar atau pun tidak, mereka menolak keragaman pandangan yang sebenarnya amat niscaya. Alhasil, masih banyak yang berharap kekuatan Islam di Indonesia tidak gampang larut dalam godaan populisme belaka. Termasuk gerakan alumni 212, terobosan penting amat ditunggu demi kemajuan bangsa.
Untuk yang satu ini, tentu, setelah mereka sendiri mampu menjelaskan kepada banyak orang apa makna lebih dari reuni yang digelar ? Bukan cuma kangen-kangenan, apalagi jika memang sengaja dilakukan dalam rangka memelihara garis pisah antarkelompok di Indonesia, khususnya warga Jakarta. [disini]
Niat mati syahid juga belum tentu di mata Allah, justeru niatanmu ditanyakan seperti apa kelak saat hadirnya jiwa menghadap ilahi....Kepentingan nafsu duniawi kaum perindu cinta dunia berlapiskan agama. Berarti, sangat bernas jika acara-acara ini memaksa masyarakat awam tanpa mengerti tujuan dan maksud yang sebenarnya. Inilah pengaruh 'ideologi sableng, dan gurunya pun berpaham gendheng'.
Sumber detik:
---https://news.detik.com/kolom/3520560/apa-itu-ghirah-islam
---https://news.detik.com/berita/3751891/wiro-sableng-ikut-ramaikan-reuni-212
---https://news.detik.com/berita/d-3751898/kisah-amirudin-ajak-anak-istri-bersepeda-dari-tangerang-ke-reuni-212?utm_source=facebook&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=btn&utm_content=news&utm_source=facebook&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=btn&utm_content=news
[embo]



No comments:
Post a Comment