Ibrahim Raba, manajer restoran shawarma di kamp pengungsi Jabaliya di Gaza, mengatakan bahwa dia menawarkan diskon 80 persen tersebut untuk menunjukkan penghargaannya atas penolakan Korea Utara atas pengakuan Presiden Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel.
"80 persen bagi konsumen Korea Utara sebagai penghargaan atas peran pemimpin Korea Kim (Jong-Un) untuk memperjuangkan masyarakat Palestina kita," demikian bunyi sebuah promo di Restoran Rabaa di kamp pengungsi Jabalia yang dilaporkan AFP.
dailymail.
Tapi Kim menjadi dikagumi atas kritikan keras terhadap Israel dan mengecam kebijakan Amerika yang kontroversial atas pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem.
Presiden AS Donald Trump mengumumkannya pada 6 Desember untuk mengakui kota yang disengketakan tersebut sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaannya ke sana.
Kim meresponnya dengan menyebut Trump sebagai "si tua pikun" dan menolak keputusannya sebagai "tindakan sembrono dan jahat".
Israel menguasai bagian timur Yerusalem dalam perang Enam Hari tahun 1967 dan kemudian mengakui sepenuhnya seluruh ibukota terbagi tersebut.
Warga Palestina menganggap sisi timur Yerusalem sebagai ibu kota negaranya kelak.
Untuk memasuki Israel dalam mengunjungi Yerusalem, warga Gaza harus mengajukan izin ketat dari negara Yahudi tersebut, yang telah memblokir jalur Yerusalem selama satu dekade ini.
Rabaa mengatakan idenya tersebut mendapat perhatian di media sosial dan tempat lain, sekaligus menarik pelanggan.
Dia mengatakan bahwa penawaran diskon "hanya simbolis" merupakan ungkapan terima kasih "atas dukungan Kim terhadap masalah Palestina dan penolakannya terhadap keputusan Trump".
"Saya tahu tidak ada orang Korea di sini di Jalur Gaza, tapi paling tidak hanya ini yang bisa saya tawarkan," katanya.
Beberapa gambar Kim menghiasi dinding restoran kecil itu. Dia yang meletakkan sebuah foto ukuran besar pemimpin Korea Utara yang tertutup, Kim Jong Un di pintu masuk kaca ke restorannya.
Sebagai penggemar baru Kim, dilansir dari ABCnews, Raba mengutip perkataan pemimpin Korea Utara tersebut, dengan mengatakan: "Trump terbukti secara mental bahwa dia gila."
Dan meskipun Raba tahu tidak ada orang Korea Utara di Gaza, dia berharap mereka akan datang suatu hari nanti, mungkin melalui gabungan pasukan bantuan asing lainnya.
Inisiatif Rabaa menjadi topik utama di antara para pelanggannya.
"Saya cinta Kim karena dia berposisi sebagai pria dan pahlawan melawan Amerika," kata seorang yang sedang makan malam di restoran.
"Saya datang untuk bertemu warga Korea, jika mereka berada di Jabalia," canda yang lainnya.
****
[mk]


No comments:
Post a Comment