![]() |
| Ilustrasi Demonstrasi |
Di mana, kini kelompok gagal di 2014 itu akan menyerang habis-habisan seorang incumbent yang hari ini Presiden merakyat tersebut sedang berkuasa. Hal ini meminjam istilah yang sampaikan dari lembaga pemilihan Indonesia.
Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens berpendapat, kelompok radikalisme di Indonesia akan berperan dalam Pilpres 2019. Mereka diprediksi akan bersatu melawan petahana, Joko Widodo.
BACA: Jokowi dan Ibu Iriana tiba di Istanbul, Turki
"Jadi, Pilpres 2019 nanti menjadi pertarungan antara Jokowi dengan kelompok radikalisme," kata Boni dalam acara diskusi di bilangan Semanggi, Jakarta Selatan, Rabu (13/12/2017).
Kelompok radikalisme itu, lanjut Boni, tidak sendirian. Sebab, jumlah mereka terbilang masih kecil. Mereka pasti diprediksi akan dirangkul oleh kelompok agama-politik yang cenderung pragmatis.
Kelompok agama-politik ini, lanjut Boni, salah satunya.
![]() |
| Direktur Lembaga Pemilih Indonesia Boni Hargens |
"Kalau terhadap Jokowi, dibilang PKI-lah, anti-Islam dan isu-isu lain yang irasional. Dia tidak berteriak soal kinerja, dia tidak berbicara tentang apa yang sudah dikerjakan Jokowi," ujar Boni.
Isu tersebut pun berpotensi merasuki masyarakat Indonesia yang disebut Boni 60 persen tidak memiliki pemahaman politik yang baik.
"Sebagian besar pemilih Indonesia itu akan memilih sosok berdasarkan isu tertentu, atau figur yang sedang dihebohkan atau mengikuti mobilisasi yang dilakukan misalnya oleh ketua RT, RW dan sebagainya," ujar Boni yang dilansir pada Kompas.com.
Lebih-lebih, isu tersebut bisa mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia. Oleh sebab itu Boni berharap masyarakat mulai menggiatkan literasi terhadap isu-isu tertentu yang muncul, terutama isu agama terhadap calon presiden.
Pemilihan presiden mendatang, banyak orang mempermasalahkan kedalaman agama para kandidat. Fenomena ini ditinjau dari perspektif biologi evolusi. Para ilmuwan kini mulai meyakinkan bahwa agama dan politik merupakan bagian dari sifat dasar manusia (human nature).-pen
Dalam perspektif evolusi, politik dapat ditemui pada banyak makhluk hidup lain, seperti lumba-lumba, gajah, hyena, dan simpanse. Mereka berinteraksi dengan anggota dalam kelompok mereka untuk mendapatkan kekuasaan dalam komunitasnya. Hewan-hewan ini juga bisa membentuk koalisi.
Pemilihan presiden mendatang, banyak orang mempermasalahkan kedalaman agama para kandidat. Fenomena ini ditinjau dari perspektif biologi evolusi. Para ilmuwan kini mulai meyakinkan bahwa agama dan politik merupakan bagian dari sifat dasar manusia (human nature).
Dalam perspektif evolusi, politik dapat ditemui pada banyak makhluk hidup lain, seperti lumba-lumba, gajah, hyena, dan simpanse. Mereka berinteraksi dengan anggota dalam kelompok mereka untuk mendapatkan kekuasaan dalam komunitasnya. Hewan-hewan ini juga bisa membentuk koalisi.
Berbeda dengan politik, sebenarnya agama merupakan suatu hal yang baru ditemui pada spesies manusia modern (Homo sapiens).
Peristiwa Adam sebenarnya memang politis (kebijakan menata alam) namun inspirasi surgawilah yang membuatnya bijak, akan tetapi setelah hadir kedua anaknya (Qabil dan Habil)-pen, maka politik buruk dilihatkan oleh salah satu pihak dengan membinasakan pihak lainnya hanya demi seorang perempuan.
Richard Sosis, seorang ahli biologi evolusi, mengemukakan sebuah teori tentang fungsi agama dalam evolusi manusia, bahwa agama adalah sebuah bentuk adaptasi bagi keberlangsungan hidup spesies manusia modern.
Bagi Sosis, agama merupakan sebuah alat untuk mencapai kesatuan sosial (social cohesion). Dengan mempercayai Tuhan yang sama, manusia bisa lebih mudah bekerja sama.
Banyak informasi di media sosial mengenai keagamaan kandidat yang terlihat sangat politis. Alih-alih ikhlas, masyarakat melihat ibadah mereka sebagai aksi politik. Dan, menurut Darren, hal itu justru tidak menguntungkan bagi mereka.
Di sinilah kehati-hatian kita tak termakan isu dogmatis agama, sebenarnya agama menjadi andalan lips service oknum tertentu, di mana tangan berpura menengadah namun kepala menjulur ke bawah meja memikirkan keinginannya, hal ini bagi kelompok setengah gampang tersulut yang mempunyai keinginan akan dominasi kekuasaan yang tertunda akan berkecamuk.
Siapa saja? Anda pasti tahu....
[embo]


No comments:
Post a Comment