![]() |
| Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nur Afni Sajim. |
Melalui lansiran jurnalpolitik.id, Nur Afni menyatakan, pelatihan tersebut aneh lantaran cuma ada pelatihan secara lisan tanpa praktik dari sang pelatih. Dia mengetahui hal tersebut karena mengaku selalu hadir dalam pelatihan OK OCE yang digelar di Jakarta Barat.
“Latihannya itu, Bank DKI cuma memaparkan, ‘Ini lho, saya punya pinjaman Rp5 juta sampai Rp50 juta dengan jaminan sertifikat rumah dengan bunga 13 persen’. Itu sama saja bohong,” ujar Afni.
Selain itu, Afni pun menilai hasil dari pelatihan OKE OCE kurang efektif menciptakan lapangan kerja karena Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) masih sulit mengeluarkan surat keterangan usaha bagi para pengusaha kecil menengah.
Atas dasar itu, menurut Afni, pelatihan OKE OCE tak siap. Dia menyebut, peserta pelatihan direkrut secara asal-asalan oleh lurah. Akibatnya, banyak peserta yang tidak mengerti pelatihan yang mereka ikuti.
“Jangan dipaksakan kalau memang itu tidak siap. Akhirnya, pelatihan itu memalukan kalau kata saya. Masih bagus anggota Dewan reses daripada pelatihan itu,” kata Afni.
Afni juga mempertanyakan apa yang dilakukan Pemprov DKI kepada para calon wirausaha setelah memberikan pelatihan? Sebab, Pemprov DKI tidak menyediakan lokasi sementara (loksem) ataupun lokasi binaan (lokbin) untuk mereka berwirausaha.
Tak hanya itu, Afni pun membandingkan antara pelatihan OKE OCE dengan pelatihan kewirausahaan yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) dan Dinas Perindustrian dan Energi (Dinas PE). Menurutnya pelatihan dari dinas tersebut lebih teknis dan komprehensif.
“Saya bingung, (OKE OCE) ini pelatihan paling aneh yang pernah saya datangi. Kalau (pelatihan) Dinas Tenaga Kerja saya pernah datang, di sana melatih solder, merakit membenarkan HP, menjahit. Masuk akal,” kata Afni.
“Saya bingung, ini aneh, ini pelatihan paling aneh yang pernah saya datangi. (OKE OCE) Ini pelatihan cuap-cuap, Pak. Saya kontrol betul di Jakarta Barat,” imbuhnya.
Menurut Afni, Dinas UMKM lebih baik mengalokasikan anggaran tersebut untuk kebutuhan lain.
“Anggaran segitu banyak pelatihan, Dinas Energi (mengadakan) pelatihan, buat apa? Kenapa Bapak (Kepala Dinas UMKM Irwandi) enggak bikin loksem yang banyak, tampung semua (pedagang),” ucap anggota fraksi Demokrat-PAN itu.
Sebagai informasi, dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) DKI 2018, alokasi kegiatan pembinaan dan pendampingan kewirausahaan tingkat kecamatan sebesar Rp38 miliar.
Sementara itu, di tempat yang sama, Kepala Dinas UMKM DKI Jakarta Irwandi, mengakui bahwa pelatihan yang dilakukan Suku Dinas UMKM setiap wilayah memang hanya pelatihan lisan. Sebab, pelatihan yang lebih teknis dilakukan Dinas Perindustrian dan Energi serta Dinas Tenaga Kerja.
“Pelatihan itu, kalau enggak cuap-cuap, dia mau ngapain? Kan gini, pelatihan teknis ada di Dinas Perindustrian dan Energi, Dinas Tenaga Kerja. Kalau di kami, Dinas kami, ya, cuap-cuap,” kata Irwandi.
Cuap-cuap itu, kata Irwandi, untuk memberikan motivasi agar orang bisa bersemangat membangun dan menjalankan usaha.
“Memberikan motivasi bagaimana orang bisa berdagang, bagaimana orang bisa berusaha, bagaimana jadi pengusaha, pasti ada cuap-cuap,” kata Irwandi.
edy.m.

No comments:
Post a Comment