![]() |
| Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (instagram) |
Sedangkan, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi mengingatkan Anies mengenai pentingnya normalisasi kali. Prasetio mengatakan, normalisasi mulai dari Kali Ciliwung, Pesanggarahan, Angke dan Sunter harus terus dilakukan. Mengingat kondisi fisik kali di ibu kota [Sumber]. Tidak cukup ruang untuk membangun resapan air.
Semua pihak tahu, setiap tahun ada banjir kiriman. Maka Ibu Kota setiap tahun selalu mendapat masalah yang sama. Jadi saya sebagai wakil rakyat di sini, mendorong agar normalisasi dilakukan. Kebijakan yang sudah baik dulu, dilanjutkan kembali.
Dia mengungkapkan, sempat turun ke lokasi banjir di kawasan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, kemarin malam, Senin (5/2). Melihat kondisi Jakarta banjir, Prasetio menilai, kebijakan pemerintah pusat untuk melakukan normalisasi Kali Ciliwung harus diteruskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI.
Namun, Sejak dua kali banjir melanda ibu kota Jakarta di masa kepmimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan- Sandiaga Uno. Pada Desember 2017 lalu sebagian wilayah Jakarta terendam banjir, salah satunya di wilayah Kuningan, Jakarta Selatan. Dan sejak Senin (5/2) kemarin, banjir juga melanda sebagian besar wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan yang menyebabkan ribuan warga mengungsi. Tetapi tak satupun kebijakan air dari program kampanyenya hingga 100 hari kerja saat ini terealisasi sedikitpun, yang terjadi justru hanya pada upaya kebanyakan focus pada pantauan.
Anies mengungkapkan, banjir yang melanda pada Desember tahun lalu dan saat ini disebabkan dua hal yang berbeda. "Ada dua hal yang berbeda. Kalau bulan November (Desember) kemarin itu karena curah hujan yang amat tinggi di Jakarta. Kalau yang terjadi hari-hari kemarin ini karena curah hujan yang amat tinggi di hulu yang kemudian memiliki dampak pada kita di Jakarta. Karena itu titik-titik alirannya berbeda," jelasnya di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (6/2).
Menurutnya posisi saat ini ialah siaga awal. Cuaca saat ini tak dpat diketahui, sebab hal ini berbeda kasusnya antara November (Desember) dengan yang terjadi sekarang.
Saat banjir melanda sejak kemarin, Anies memantau sampai Selasa dini hari di Pintu Air Manggarai. Berdasarkan hasil pantauannya, pada pukul 01.00 WIB, volume air di Pintu Air Manggarai mencapai puncaknya yaitu 900 sentimeter.
"Saya tunggu di situ sampai stabil kira-kira jam 02.00 WIB. Lalu Pintu Air Ciliwung lama dibuka jam 02.00 WIB dari 150 sentimeter menjadi 175 sentimeter. Dan Alhamdulillah angkanya stabil," jelasnya.
Pada pukul 06.00 WIB, volume air di Manggarai turun menjadi 895 sentimeter. Dan pukul 08.00 WIB, turun lagi menjadi 870 sentimeter. "InsyaAllah akan turun lagi 860 sentimeter dan seterusnya," harapnya.
Terkait beberapa wilayah yang jarang terkena banjir dalam beberapa tahun terakhir namun kini ikut terdampak, Anies mengatakan akan melakukan evaluasi. Tapi saat ini yang menjadi fokus ialah memonitor air yang masuk ke wilayah Jakarta dari hulu.
"Sesudah lewat masa krisis nanti kita satu-satu evaluasi apa saja yang terjadi. Kalau sekarang ini prioritas kita memastikan semua pengungsi, semua daerah terdampak dapat bantuan yang cukup. Baru setelah itu kita evaluasi satu-satu apa yang terjadi. Lalu kita buatkan langkah-langkah ke depan untuk mencegah terjadinya seperti ini lagi," paparnya [sumber].
Kebijakan Anies-Sandi dalam penanganan banjir yang merendam sebagian kawasan di ibu kota Jakarta tak ada program yang greget, hanya focus memantau/memonitor atau pengawasan pada kiriman banjir, setelah itu baru akan dilakukan upaya - upaya yang dapat di evaluasi. Waduuhh!!!
Dari sini dapat dipahami kinerja Anies, yang menurutnya gejala banjir di Jakarta dicarikan solusi usai dievaluasi, aaaakkk!! Yang mana banjir sudah terlebih dahulu merendam kawasan pemukiman warga, sebagiannya sudah pasti mengungsi dan mungkin kelak bakal ada jiwa melayang ribuan nyawa, namun ia baru akan mengupayakan solusinya...Pegimana sichh!!!
Anies - Sandi terbiasa dengan kebijakan lelet nan santun penuh retorika berbunga kata, yang justeru sangat melempem, lamban dalam merespon alam. Berbeda halnya dengan kebijakan pusat ketika Ahok menindaklanjutinya dengan normalisasi kali (membangun dinding sungai dan upaya penggarukan sungai dan upaya-upaya lain yang sesuai arahan pusat] namun Anies-Sandi justeru menghentikan program itu beberapa waktu lalu hingga saatnya banjir melanda programnya tak satupun berjalan maksimal,...Cukup egois dalam menjiplak kerja atau melanjutkan usaha Ahok...Padahal Ahok sudah memerintahkannya untuk normalisasi sungai.
Menurut Ahok, cara satu-satunya untuk menghilangkan banjir adalah dengan melakukan normalisasi sungai. Dia yakin Anies juga akan melakukan hal yang sama jika terpilih menjadi gubernur Jakarta.
"Kalau Pak Anies diizinkan Tuhan jadi gubernur DKI, kalau dia enggak lakukan normalisasi seperti yang saya lakukan, bohong dia itu. Berani taruhan kita" ujar Ahok.
Menurut Ahok, langkah untuk melakukan normalisasi juga bukan keputusannya seorang. Hal itu juga didasari kajian dari pemerintah pusat. Menurut Ahok, jika normalisasi kali dianggap salah, itu sama saja mengatakan bahwa semua ahli yang melakukan kajian kebijakan normalisasi telah salah membuat perhitungan.Embo


No comments:
Post a Comment