Cuitan seorang pengguna media sosial yang mempersilakan seorang ibu berhijab untuk duduk di sebelahnya namun kemudian ditolak atas anggapan bahwa si pemberi kursi beragama Kristen, menjadi perbincangan di media sosial.
Pengamat menilai bahwa peristiwa ini adalah 'suatu pertanda membahayakan untuk kebhinnekaan'.
Cuitan dari @cho_ro itu disampaikan dalam rangkaian yang masing-masing sudah dibagikan lebih dari 1.000 dan lebih dari 2.600 kali dan disukai lebih dari 300 dan 500 kali.
Setelah cuitannya banyak dibagikan, @cho_ro mengatakan bahwa dia menerima komentar bukan hanya dari orang-orang yang membagikan pengalaman 'serupa', namun juga dari mereka yang meminta agar dia tidak menceritakan pengalamannya itu.
"Jangan diceritakan karena nanti memancing perseteruan. Posisinya adalah, saya tuh mayoritas lho, saya Muslim nih, saya bukan yang beneran Kristen, atau chinese. Saya aja yang mayoritas dibilang, 'oh nggak usah cerita', bayangin kalau saya benar minoritas," katanya.
"Seingat saya, kalau tidak salah memang lagi panas tentang isu pilkada DKI," kata Etna.
Dia sempat menceritakan pengalaman itu kepada ibunya yang juga "merasa kaget". "Ini hal paling absurd yang menimpa saya," tambahnya.
Ekslusivisme disuburkan oleh Pilkada Jakarta
"Saya percaya ini oknum. Saya tidak percaya ini Indonesia kini, ini Indonesia dulu kayaknya, karena cerita-cerita (seperti ini) pernah baca, selentingan ada, tapi tidak pernah ketemu, ngalamin itu nggak pernah. Sekarang jadi terbuka karena ada media sosial," ujarnya.
Pengamat Islam dan pengajar Universitas Paramadina, Jakarta, Budhy Munawar Rahman mengatakan bahwa memang kondisi eksklusivisme dan puritanisme sudah ada sebelumnya di masyarakat Indonesia.
Namun kemudian elemen-elemen itu kemudian "disuburkan oleh pilkada DKI yang memang membawa isu SARA, agama, untuk politik".
"Sekarang ini ada kecenderungan yang tidak terbayangkan sebelumnya bahwa intoleransi itu ada di hal-hal yang kecil-kecil, sehari-hari, yang dulu tidak terpikirkan," kata Budhy.
stilah 'toleransi' dan 'intoleransi', menurut Budhy, biasanya akan merujuk pada hubungan antar-agama di tingkat isu nasional dan kontroversial, namun kini perkembangannya jadi masuk ke isu yang kecil dan sehari-hari.
Menurutnya ini terjadi karena selama ini toleransi lebih sering diwacanakan di tingkat elite, namun tidak dikembangkan di tingkat masyarakat dalam hal yang sejauh mungkin pada perjumpaan atau interaksi sosial.
"Contoh tadi itu kan perjumpaan, sekarang perjumpaan ini dalam hal yang sederhana sudah mulai menjadi masalah. Kita tidak bisa mengatakan di Indonesia sudah buruk sekali, tapi fenomena satu, dua seperti ini, ini memberi warning pada kita bahwa kondisi intoleransi sudah turun pada level masyarakat yang luas," kata Budhy. "Kalau sudah sampai level duduk bersebelahan antar-agama saja sudah menjadi masalah, itu sudah menjadi pertanda yang membahayakan sekali."
Sumber Artikel: BBC
[eyth.]
Pengamat menilai bahwa peristiwa ini adalah 'suatu pertanda membahayakan untuk kebhinnekaan'.
Cuitan dari @cho_ro itu disampaikan dalam rangkaian yang masing-masing sudah dibagikan lebih dari 1.000 dan lebih dari 2.600 kali dan disukai lebih dari 300 dan 500 kali.
Baru saja ada buk ibuk berjilbab ga mau duduk sebelah wa karena wa dikira Kristen.*masih shock*
— Choro (@cho_ro) 4 Februari 2018
"Saya harus bereaksi apa nih? Logika apa yang bisa membuatmu menolak (tawaran kursi dari) orang dengan kalimat 'saya Muslim'? Kalau dia bilang, 'oh, (tujuan) saya dekat', 'oh, saya sakit punggung', saya masih bisa jawab. Itu rasanya shock," kata pemilik akun @cho_ro, yang ingin disebut dengan nama akunnya saja kepada BBC Indonesia, Senin (05/02).Ini emang cuma oknum, tapi wa shock karena wa pikir wa ga bakal ketemu yang begini secara langsung.— Choro (@cho_ro) 4 Februari 2018
Setelah cuitannya banyak dibagikan, @cho_ro mengatakan bahwa dia menerima komentar bukan hanya dari orang-orang yang membagikan pengalaman 'serupa', namun juga dari mereka yang meminta agar dia tidak menceritakan pengalamannya itu.
"Jangan diceritakan karena nanti memancing perseteruan. Posisinya adalah, saya tuh mayoritas lho, saya Muslim nih, saya bukan yang beneran Kristen, atau chinese. Saya aja yang mayoritas dibilang, 'oh nggak usah cerita', bayangin kalau saya benar minoritas," katanya.
Mending ga perlu di share kak cukup menjadi pengalaman pribadi aja, kalo di tweet kan akan jd polemik skligus memancing perdebatan antar agama atau yg seagama #Cmiiw— Aisarraden (@Radenaisar) 4 Februari 2018
Salah satu pengguna media sosial yang membagikan pengalaman yang kurang lebih serupa adalah Etna Fastiana lewat akun @etnafst yang mengatakan bahwa dia ditolak untuk naik Uber karena 'disangka Kristen dan cina'.Salut 👍— Ryo Adhi (@vieroi) 4 Februari 2018
Sebaiknya memang diceritakan / di-share biar pada tau pada kenyataannya rasa bertenggang rasa sudah banyak yg berkurang..
Padahal cuman urusan duduk di angkutan/tempat umum, jadi bawa2 agama..
Baca thread mbak @cho_ro gue juga pernah gak jadi naik Uber karena drivernya nyangka kristen dan cina. Bener-bener ditolak depan mata “wah mbaknya kristen ya, cina juga, maaf mbak saya gak bisa angkut cancel aja ya”— etna (@etnafst) 4 Februari 2018
😑😑😑
Kepada BBC Indonesia, Etna mengatakan bahwa kejadian itu dialaminya sekitar setahun lalu. "Tidak saya sampaikan ke Uber, karena waktu itu shock aja, bingung. Waktu itu cuma bingung karena kaget ada orang yang berpikir seperti itu, padahal saya muslim juga, bukan cina" ujar Etna.Temen ada yang pernah diginiin sama driver gojek. Tetep diangkut tapi bilang najis terima uang dari cina kristen, haram. Akhirnya minta berenti di pinggir jalan yang rame orang dan ngajak orang buat jadi saksi mata.— E (@tantegrumpy) 4 Februari 2018
"Seingat saya, kalau tidak salah memang lagi panas tentang isu pilkada DKI," kata Etna.
Dia sempat menceritakan pengalaman itu kepada ibunya yang juga "merasa kaget". "Ini hal paling absurd yang menimpa saya," tambahnya.
Ada juga nih, di kantor temen lagi butuh orang (karena ada yg resign) eh atasannya maunya yg muslim doonggg, gak mau yg kristen 😞— dinda titisari (@dindadinda_) 4 Februari 2018
Namun @cho_ro tak terlalu setuju jika insiden ini disebut sebagai ekses pilkada DKI.Dikantor gue jg gini, tapi kebalikannya. Udah interview org panhang kebar, selusin kali, ada bbrp yg bagus. Tp gadi hire, krn apa? Krn dia Muslim. Boss gue trnyt carinya yg Kristen. Gini amat kayanya skrg org2 😢— I|am|EnZ (@EnZclopedia) 4 Februari 2018
Ekslusivisme disuburkan oleh Pilkada Jakarta
"Saya percaya ini oknum. Saya tidak percaya ini Indonesia kini, ini Indonesia dulu kayaknya, karena cerita-cerita (seperti ini) pernah baca, selentingan ada, tapi tidak pernah ketemu, ngalamin itu nggak pernah. Sekarang jadi terbuka karena ada media sosial," ujarnya.
![]() |
| Seorang pengguna media sosial membagikan kisahnya ditolak saat menawarkan kursi di bus TransJakarta dengan alasan 'dianggap beragama Kristen'. (Foto merupakan ilustrasi)/Getty Image. |
Namun kemudian elemen-elemen itu kemudian "disuburkan oleh pilkada DKI yang memang membawa isu SARA, agama, untuk politik".
"Sekarang ini ada kecenderungan yang tidak terbayangkan sebelumnya bahwa intoleransi itu ada di hal-hal yang kecil-kecil, sehari-hari, yang dulu tidak terpikirkan," kata Budhy.
stilah 'toleransi' dan 'intoleransi', menurut Budhy, biasanya akan merujuk pada hubungan antar-agama di tingkat isu nasional dan kontroversial, namun kini perkembangannya jadi masuk ke isu yang kecil dan sehari-hari.
Menurutnya ini terjadi karena selama ini toleransi lebih sering diwacanakan di tingkat elite, namun tidak dikembangkan di tingkat masyarakat dalam hal yang sejauh mungkin pada perjumpaan atau interaksi sosial.
"Contoh tadi itu kan perjumpaan, sekarang perjumpaan ini dalam hal yang sederhana sudah mulai menjadi masalah. Kita tidak bisa mengatakan di Indonesia sudah buruk sekali, tapi fenomena satu, dua seperti ini, ini memberi warning pada kita bahwa kondisi intoleransi sudah turun pada level masyarakat yang luas," kata Budhy. "Kalau sudah sampai level duduk bersebelahan antar-agama saja sudah menjadi masalah, itu sudah menjadi pertanda yang membahayakan sekali."
Sumber Artikel: BBC
[eyth.]


No comments:
Post a Comment