Nasihat Fahri Hamzah 'Jangan jadi aktivis kalau macam Ayam Sayur' ke Ketua BEM UI - Indowordnews

Breaking

06 February 2018

Nasihat Fahri Hamzah 'Jangan jadi aktivis kalau macam Ayam Sayur' ke Ketua BEM UI

Nasihat Fahri Hamzah ke Ketua BEM UI, 'Jangan jadi aktivis kalau macam Ayam Sayur'
Ilustrasi. Fahri Hamzah & Sosok Zaadit, KETUA BEM UI, mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI jurusan Fisika. (Foto: Instagram/zaaditt)
Ketua BEM UI Zaadit Taqwa jadi sorotan setelah dikenal sebagai 'pemberi kartu kuning' ke Presiden Jokowi. Insiden itu menyita perhatian dalam beberapa hari terakhir. Bahkan siap-siap, insiden serupa rawan dipidanakan jika Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) disahkan.

Belakangan Ketua BEM UI Zaadit Taqwa mengklarifikasi jika aksinya tersebut merupakan bentuk ekspresi kritik atas beberapa permasalahan bangsa di era Presiden Joko Widodo. Sementara, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah berpesan untuk Ketua BEM UI Zaadit Taqwa yang kini diserang di media sosial.

Menurut Fahri, sebagai seorang aktivis Zaadit harus tahan terhadap serangan atau hujatan yang ditujukan untuknya.

"Dia memang harus jadi bulan bulanan. Kalau mau aktivis, ya memang harus begitu. Harus tahan menghadapi itu," ujar Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/2/2018).

Menurut Fahri seorang aktivis harus siap dicaci maki demi mempertahankan prinsip yang dipegangnya. Eks politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menambahkan, jika ingin menjadi seorang pemimpin, aktivis mesti siap dengan segala kontroversi.

"Kalau ngambek kan enggak usah, ayam sayur jangan jadi aktivis. Saya begitu dulu dimaki-maki, ya enggak apa-apa. Bertahan saja yang gigih. Itulah pemimpin kita, pemimpin Indonesia ke depan‎," katanya.

Sebelumnya Zaadit mendapat sorotan di media sosial usai memberikan kartu kuning terhadap Presiden Joko Widodo saat acara Dies Natalis‎ UI yang ke 68, Jumat lalu (2/2/2018), namun Jokowi sama sekali tak merasa tersinggung.

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi Sapta Prabowo memastikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ‎sama sekali tidak tersinggung atas pemberian hadiah berupa kartu kuning yang diduga dilakukan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2018 Zaadit Taqwa‎.

Ia menuturkan, sebenarnya Kepala Negara telah dijadwalkan menerima pengurus BEM UI tersebut selepas menghadiri acara Dies Natalis ke-68 UI dan Peresmian Forum Kebangsaan UI‎ di Balairung Kampus UI, Kota Depok, Jawa Barat, Jum'at pagi itu.

"Tapi, tidak tahu tiba-tiba saat acara di dalam ada mahasiswa yang mengacungkan buku berwarna kuning. Dari penjelasan yang ada, itu buku isinya lagu-lagu," jelas Johan Budi.

Ada tiga tuntutan Zaadit di balik aksi ‘kartu kuning’ kepada Jokowi tersebut. Pertama, meminta agar persoalan gizi buruk di Papua segera diselesaikan. Kedua, penolakan terhadap usulan penunjukan pelaksana tugas (plt) gubernur dari perwira tinggi TNI dan Polri. Ketiga, persoalan Peraturan Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) tentang Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang dianggap mengancam kebebasan berorganisasi dan gerakan kritis mahasiswa.

Beberapa pihak kemudian mengecam tindakan Zaadit yang dilakukan tidak pada tempatnya. Meskipun demikian, ada juga yang mendukung dan mengapresiasi tindakan Zaadit tersebut.

Adapun kartu kuning dan peluit yang disampaikan Zaadit merupakan bentuk peringatan dan kritik terhadap pemerintahan Joko Widodo.
Setelah aksinya memberi kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) mendapat surat terbuka dari dokter yang bertugas di Asmat, Papua.

Surat yang diunggah pada Senin (5/2/2018) tersebut diberikan setelah kabar jika Presiden Jokowi hendak mengajak Ketua BEM UI Zaadit Taqwa ke Asmat untuk melihat langsung kondisi di Papua.

Sebelum Ketua BEM UI berbicara masalah Gizi Papua, justeru sebelumnya yang dilansir dari Humas UGM, tim Disaster Response Unit (DERU) UGM sudah terlebih dahulu menuju Asmat. Diceritakan, mereka berpencar untuk membantu penanganan KLB gizi buruk dan campak serta ikut memetakan berbagai persoalan lain yang dihadapi warga Asmat dari persolan layanan kesehatan, infrastruktur, teknologi hingga kondisi sosial budaya.
Pemetaan tersebut dilakukan dalam rangka pengiriman mahasiswa KKN UGM dalam waktu dekat. Di Agats, ibukota Asmat. Selain persoalan infrastruktur, minimnya moda trasportasi dan jauhnya akses layanan kesehatan yang bisa dijangkau juga masih menjadi kendala. Racmawan menyebutkan dari 23 distrik, sementara ini hanya ada 16 distrik yang memiliki puskesmas. Dari 16 tersebut,  baru 5 puskesmas yang memiliki tenaga dokter.

Persoalan lain yang dipetakan oleh tim UGM, kata Rachmawan, yakni kondisi tempat tinggal warga Asmat yang mayoritas berada di daerah rawa dan menggunakan sumber air minum dari air hujan sehingga menyebabkan kondisi sanitasi lingkungan yang cukup memprihatinkan.


Edy.

No comments:

Post a Comment