Mantan aktivis mahasiswa di era Orde Baru dulu, Andi Arief sekaligus mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) saat itu serta Mantan staf kepresidenan di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan pernah ditegur dua kali. Sebelumnya teguran pertama diterima Andi saat dia bicara ke media bahwa pemerintah lalai 12 jam saat menangani bencana tsunami Mentawai, Sumatera Barat, katanya saat berbincang dengan detik.com, 2014 lalu.
Kali ini Andi Arief mengungkapkan keprihatinan atas kondisi yang terjadi di masyarakat saat ini dengan nyinyir ke Presiden. Menurutnya, keberadaan dan kebebasan umat beragama di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terancam, sehingga menimbulkan kecemasan di kalangan tokoh dan penganut agama.
Hal tersebut disampaikan @andiarief__melalui cuitan di twitter pada hari Minggu (11/2/2018), menyikapi kejadian pembacokan yang menimpa para jemaat saat menggelar misa ekaristi di Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2) pagi.
Belakangan, kasus itu murni penganiayaan bukan teror, pelaku telah diketahui bernama Suliyono, seorang mahasiswa berumur 23 tahun telah ditembak mati.
“Ulama dimata-matai, pengajian dakwah digerudug, ibadah di gereja diserang parang, orang gila membunuh kyai, Presidennya ngapain aja,” ujar Andi melalui cuitannya di twitter.
Inilah pemikiran lemah akibat kurangnya pengaruh micin dari Andi Arief, ia kerap mengatai Jokowi di twitternya. Namun, post twitternya itu tidak menjabarkan secara rinci mengenai peranan presiden Jokowi dalam memelihara dan menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Namun cuitan tersebut seolah-olah menilai bahwa Indonesia tidak memiliki seorang presiden, sehingga kedaulatan umat dalam beribadah tidak terlindungi.
Seperti diketahui, kriminalitas seperti ini berada pada ranah kepolisian (Polri). Kasus hukum seperti itu bahkan, pelaku-pelaku dari peristiwa itu sudah ditangkap dalam waktu yang sama dan penyerangan di Gereja Lidwina malah telah di tembak mati di locus delictinya.
Kamtibmas untuk wilayah masing-masing kawasan dikomandoi oleh Polwiltabes, Polres, Polsek, yang masing-masing punya tugas di penugasan aparat kepolisian RI sesuai kewilayahannya ditangani oleh reskrim dan peranan segenap tokoh masyarakat disekitarnya. Presiden secara eksekutif tentunya telah mengamanahkan tugas tersebut kepada Kapolri dan itu sesuai dengan UU yang berlaku.
Politisi, cara bicaranya jadi begitu. Untungnya, ada Netizen Bai' Ngao @oktovstieb yang melontarkan twitt balasan menjawabnya lugas dan menohok, "Lg mikir apa yg dibuat mantan presiden selama 10 thn nya memerintah, selain korupsi yg subur, kelompok intoleran kok dibiarin tumbuh subur.."
Kalau bicara itu terarah, sesuai konteks, bukan sedikit-sedikit menyasar Presidennya. Kalau merasa iri bersamaan karena agenda politik, ngetwitt lah dengan tepat, setidaknya aparatnya kemana? Bukan Presidennya ditanya lagi Ngapain? Pek**k..
Diketahui sebelumnya, publik geram atas tragedi KH Umar Basri (60), Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dianiaya oleh orang tidak dikenal di dalam masjid. Belakangan diketahui, pelaku penyerangan (penganiayaan) tersebut setelah ditangkap polisi ternyata memiliki gangguan jiwa.
Belum sampai sepekan dari kejadian penganiayaan terhadap KH Umar Basr di Cicalengka, lagi-lagi ada penyerangan terhadap tokoh agama (ulama) terjadi di kota Bandung yaitu Ustaz Prawoto yang merupakan komandan Brigade Pesis. Besok-besok apa lagi.
Penyerangan yang mengakibatkan meninggalnya ustaz Prawoto itu pun setelah diungkap pelakunya ternyata orang yang memiliki gangguan jiwa. Sehingga pihak kepolisian tidak bisa langsung memproses secara hukum, karena perlu pembuktian lebih panjang dengan neguji kejiwaan pelaku tersebut.
Dua peristiwa yang menimpa ulama di Bandung berimbas pada keresahan bagi umat islam dan ulama, khususnya di Jawa Barat. Akibatnya umat Islam di Jawa Barat menaruh curiga yang besar bagi para penderita gangguan jiwa (orang gila) yang mendekati tempat-tempat ibadah maupun pondok pesantren. Tidak sedikit penderita gangguan jiwa ditangkap dan diinterogasi, bahkan diperkusi karena dicurigai akan mengancam keselamatan umat islam, khususnya tokoh ulama.
Teror tidak hanya menimpa umat Islam di Jawa Barat dan umat kristen di Sleman Yogyakarta, belum lama ini teror juga terjadi terhadap umat Budha di Tangerang Banten. Peristiwa terjadi pada Rabu (7/2) lalu.
Hal itu berawal dari adanya penolakan warga Desa Babat, Kecamatan Legok. Warga menolak rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat.
Masyarakat juga sempat tidak menerima kehadiran Mulyanto Nurhalim selaku biksu di kampung tersebut. Dikutip dari detik, warga resah karena menganggap biksu tersebut akan mengajak orang lain untuk masuk agama Budha justeru ini hanya kesalahpahaman. Biksu Nurhalim hanya ingin memberikan makan kepada Biksu dan minta didoakan, bukan melaksanakan kegiatan ibadah.
Sumber artikel [disini]
Embo.
Hal tersebut disampaikan @andiarief__melalui cuitan di twitter pada hari Minggu (11/2/2018), menyikapi kejadian pembacokan yang menimpa para jemaat saat menggelar misa ekaristi di Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2) pagi.
Belakangan, kasus itu murni penganiayaan bukan teror, pelaku telah diketahui bernama Suliyono, seorang mahasiswa berumur 23 tahun telah ditembak mati.
| Twitter @andiarief_. |
Inilah pemikiran lemah akibat kurangnya pengaruh micin dari Andi Arief, ia kerap mengatai Jokowi di twitternya. Namun, post twitternya itu tidak menjabarkan secara rinci mengenai peranan presiden Jokowi dalam memelihara dan menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Namun cuitan tersebut seolah-olah menilai bahwa Indonesia tidak memiliki seorang presiden, sehingga kedaulatan umat dalam beribadah tidak terlindungi.
Seperti diketahui, kriminalitas seperti ini berada pada ranah kepolisian (Polri). Kasus hukum seperti itu bahkan, pelaku-pelaku dari peristiwa itu sudah ditangkap dalam waktu yang sama dan penyerangan di Gereja Lidwina malah telah di tembak mati di locus delictinya.
Kamtibmas untuk wilayah masing-masing kawasan dikomandoi oleh Polwiltabes, Polres, Polsek, yang masing-masing punya tugas di penugasan aparat kepolisian RI sesuai kewilayahannya ditangani oleh reskrim dan peranan segenap tokoh masyarakat disekitarnya. Presiden secara eksekutif tentunya telah mengamanahkan tugas tersebut kepada Kapolri dan itu sesuai dengan UU yang berlaku.
Politisi, cara bicaranya jadi begitu. Untungnya, ada Netizen Bai' Ngao @oktovstieb yang melontarkan twitt balasan menjawabnya lugas dan menohok, "Lg mikir apa yg dibuat mantan presiden selama 10 thn nya memerintah, selain korupsi yg subur, kelompok intoleran kok dibiarin tumbuh subur.."
Kalau bicara itu terarah, sesuai konteks, bukan sedikit-sedikit menyasar Presidennya. Kalau merasa iri bersamaan karena agenda politik, ngetwitt lah dengan tepat, setidaknya aparatnya kemana? Bukan Presidennya ditanya lagi Ngapain? Pek**k..
Diketahui sebelumnya, publik geram atas tragedi KH Umar Basri (60), Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dianiaya oleh orang tidak dikenal di dalam masjid. Belakangan diketahui, pelaku penyerangan (penganiayaan) tersebut setelah ditangkap polisi ternyata memiliki gangguan jiwa.
Belum sampai sepekan dari kejadian penganiayaan terhadap KH Umar Basr di Cicalengka, lagi-lagi ada penyerangan terhadap tokoh agama (ulama) terjadi di kota Bandung yaitu Ustaz Prawoto yang merupakan komandan Brigade Pesis. Besok-besok apa lagi.
Penyerangan yang mengakibatkan meninggalnya ustaz Prawoto itu pun setelah diungkap pelakunya ternyata orang yang memiliki gangguan jiwa. Sehingga pihak kepolisian tidak bisa langsung memproses secara hukum, karena perlu pembuktian lebih panjang dengan neguji kejiwaan pelaku tersebut.
Dua peristiwa yang menimpa ulama di Bandung berimbas pada keresahan bagi umat islam dan ulama, khususnya di Jawa Barat. Akibatnya umat Islam di Jawa Barat menaruh curiga yang besar bagi para penderita gangguan jiwa (orang gila) yang mendekati tempat-tempat ibadah maupun pondok pesantren. Tidak sedikit penderita gangguan jiwa ditangkap dan diinterogasi, bahkan diperkusi karena dicurigai akan mengancam keselamatan umat islam, khususnya tokoh ulama.
Teror tidak hanya menimpa umat Islam di Jawa Barat dan umat kristen di Sleman Yogyakarta, belum lama ini teror juga terjadi terhadap umat Budha di Tangerang Banten. Peristiwa terjadi pada Rabu (7/2) lalu.
Hal itu berawal dari adanya penolakan warga Desa Babat, Kecamatan Legok. Warga menolak rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat.
Masyarakat juga sempat tidak menerima kehadiran Mulyanto Nurhalim selaku biksu di kampung tersebut. Dikutip dari detik, warga resah karena menganggap biksu tersebut akan mengajak orang lain untuk masuk agama Budha justeru ini hanya kesalahpahaman. Biksu Nurhalim hanya ingin memberikan makan kepada Biksu dan minta didoakan, bukan melaksanakan kegiatan ibadah.
Sumber artikel [disini]
Embo.

No comments:
Post a Comment