Muda Cantik dan Berani, Tsamara Amary (Politisi Muda) - Indowordnews

Breaking

25 July 2017

Muda Cantik dan Berani, Tsamara Amary (Politisi Muda)

Muda Cantik dan Berani, Tsamara Amary (Politisi Muda)
Foto Tsamara Amany, Politisi Muda nan Cantik, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Baru-baru ini, sosok Tsamara Amany menjadi pembicaraan di media sosial. Hal ini lantaran diusia 20 tahun, Tsamara berani berdebat dengan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah lewat kicuan di Twitternya, @TsamaraDKI.

Bahkan, dalam acara TV swasta, Indonesia Lawyer Club (ILC), Selasa (11/7/2017) malam, Tsamara yang merupakan Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini dipertemukan dan berdebat langsung dengan Fahri Hamzah.

Sosoknya sebagai anak muda cerdas dan tak alergi berpolitik seakan memberi warna baru dalam politik Indonesia.

Lantas siapakah Tsamara Amany?

Dikutip dari laman resmi PSI, www.psi.id, Tsamara lahir di Jakarta, 24 Juni 1996.

Saat ini, Tsamara masih menjalani pendidikan S1 bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Paramadina.

Dikenal publik lewat tulisan-tulisannya di berbagai portal daring tentang Presiden Jokowi, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, dan isu-isu politik.

Pada 2015 diundang Jokowi ke Istana bersama para penulis Kompasiana.

Pernah menjadi saksi dalam uji materi syarat calon independen dan turut mengajukan revisi UU Pilkada berkaitan dengan calon independen.

Pada Januari-April 2016 menjadi staf magang Gubernur DKI, ditugaskan dalam tim untuk membantu Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), simplifikasi perizinan memulai usaha, dan meningkatkan peringkat izin memulai usaha dari 167 (2015) menjadi 151 (2016) dalam survei Bank Dunia.

Bersama dua temannya, Gaby dan Nita, mendirikan organisasi Perempuan Politik.

Kini menjabat Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Melongok akun Instagramnya, @tsamaradki, Tsamara banyak mengikuti berbagai kegiatan diskusi dan politik.

Tasmara juga sudah menerbitkan buku berjudul “Curhat Perempuan”.

Berikut ini video Tsamara, mengenai pendapat terhadap Jokowi, sikap radikalisme dan ujaran kebencian saat ini.

Kediktatoran itu perlu ukuran standar dan penilaian absolut. Diktatornya Soeharto, beda banget sama sikap watak Pak Jokowi....Lalu, jika gampang sebut kafir, bunuh, apa jadinya negeri ini?!!!
(Embo)

No comments:

Post a Comment