Protes Perppu Ormas, FPI Berlaga Kayak Polisi - Indowordnews

Breaking

25 July 2017

Protes Perppu Ormas, FPI Berlaga Kayak Polisi

Protes Perppu Ormas, FPI Berlaga Kayak Polisi
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto dalam menyikapi FPI@2017
Front Pembela Islam (FPI) keberatan dengan Penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

Menurut Juru Bicara FPI, Slamet Maarif, Perppu tersebut dibuat untuk membidik dan mengkriminalisasi tokoh pergerakan. Tak hanya itu, dia juga menjelaskan regulasi yang baru diterbitkan pemerintah tersebut bentuk kemunduran demokrasi di Indonesia.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menilai Perppu tersebut dibuat untuk melindungi eksistensi negara. Sebab banyak masyarakat yang merasa terganggu dengan adanya aktivitas dari ormas yang berperilaku selayaknya polisi.

Protes Perppu Ormas, FPI Berlaga Kayak Polisi

"Sekarang ditanya ke masyarakat senang enggak ada sekelompok masyarakat yang seperti polisi? Tangkap orang, memberhentikan orang begitu saja pasti akan protes," kata Setyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (24/7).

Padahal ormas tersebut tidak melakukan pendidikan dan latihan seperti yang dilakuan oleh aparat penegak hukum yakni institusi Polri. "Sementara mereka tidak dilatih dan tidak diberi kewenangan yang sama dengan polisi. Jadi polisi itu susah loh harus pendidikan dulu harus memenuhi persyaratan-persyaratan," kata Setyo.

"Tapi dia (ormas) dengan hanya menggunakan seragam yang bisa dibeli di Pasar Senen sana bisa menangkap orang. Itu sangat tidak adil," ungkap Setyo.

Karenanya dia berkeyakinan Perppu tentang ormas yang dikeluarkan pemerintah bertujuan untuk melindungi negara dan bangsa. "Jadi Perppu ini untuk melindungi negara dan bangsa dari orang-orang yang seperti ini," pungkasnya. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto sebagaimana dimuat Merdeka. .

Menyikapi pernyataan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto memang tepat jika diranah praktik kelembagaan. Polri dalam mewujudkan penegakan hukum yang berkeadilan, dengan tetap melakukan tugas-tugas penegakan hukum (penyidikan) dengan prinsip-prinsip: meninggalkan non-scientific investigation dan selalu menggunakan pola pemeriksaan scientific investigation, meninggalkan cara pemeriksaan inkusator dan tetapi dengan cara akusator serta tetap menjunjung tinggi asas presumption of innocence (praduga tak bersalah).

Sementara FPI. Pendidikan seperti apa yang dilaksanakan, apakah hanya sebatas pelatihan bela negara sesaat yang dijarkan TNI itu sudah cukup profesional?

Protes Perppu Ormas, FPI Berlaga Kayak Polisi

Sementara, disaat aksi sweeping yang dilakukan FPI jauh dari kewajaran jika massa berkerubun, tak pelak korban pasti berjatuhan.

Pada kenyataannya, praktik-praktik FPI tidak memakai teguran yang halus dan lembut. Pada kenyataannya, mereka menyerbu, merusak, menghancurkan tempat publik. Bahkan tidak segan-segan menghakimi orang-orang yang berseberangan pendapatnya, dengan bogem mentah hingga tongkat rotan (Baca disini untuk aksi keterangan mereka).

Protes Perppu Ormas, FPI Berlaga Kayak Polisi

Apakah itu kekerasan yang dimaksud?
Setahu saya yang berpengetahuan sedikit ini, sebagaimana cinta,  perbedaan pendapat adalah rahmat dan anugrah dari ilahi. Mengapa FPI harus memukul dan menyiksa warga lainnya karena mereka berbeda?

Yang nasrani, dipukul. Yang bukan ahlussunah, dipukul. Bahkan hingga Kyai Idris dari Cirebon pun mau dipukuli. Apa maksudnya?

Bagi saya, FPI bukan hanya organisasi fasis. Menganggap diri mereka dan golongan merekalah yang paling benar di dunia ini. Namun, juga mereka bertindak terlalu jauh. Kadang-kadang mengatasnamakan tuhan. Dan lebih sering seperti Firaun, berlaku seperti tuhan, menghukum mereka yang ia anggap bersalah "tak perlu ada praduga dan bersangka'.


Embo

No comments:

Post a Comment