Saat ini sejumlah masyarakat belum terbantahkan bila dua tokoh antara Jokowi dan Prabowo merupakan figur yang masih membayangi pilihan dalam agenda demokrasi dan politik di Indonesia.
Elektabilitas Joko Widodo dan Prabowo Subianto masih berada di urutan atas dibanding tokoh lainnya jika pemilu presiden digelar saat ini. Elektabilitas Jokowi masih relatif jauh di atas Prabowo.
Hal itu terlihat dari survei Harian Kompas yang dipublikasikan pada Mei 2017. Sebab, ada alasan mengapa publik memilih keduanya?
Bagi penyuka Jokowi, sebagian besar menganggap kinerja yang ditunjukkan Jokowi menjadi dasar pertimbangan yang kuat. Keputusan mereka tetap akan memilihnya jika terpampang foto beliau di bilik-bilik suara seluruh TPS di manapun itu tersebar di Indoensia.
Menurut data Litbang Kompas, yang tak kurang dari 34,5 persen pemilih Jokowi mengungkapkan, dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, Presiden Jokowi mampu menunjukkan capaian perubahan signifikan terhadap persoalan yang ada. Di luar aspek prestasi kerja, sisi kepribadian personal Jokowi juga jadi daya tarik terbesar kalangan pendukungnya.
Survei April 2017 menunjukkan 41,6 persen responden menyatakan, jika pemilu dilakukan saat ini, akan memilih Jokowi. Adapun Prabowo dipilih 22,1 persen responden.
Sisi personal yang ditunjukkan Jokowi, seperti upaya menunjukkan kedekatan dan keberpihakan pada masyarakat, menjadi daya tarik sekitar 19 persen pemilih. Aspek personal lainnya, seperti sikap kejujuran, kesederhanaan, dan ketegasan yang ditunjukkan, juga jadi alasan tersendiri bagi pemilih Jokowi.
Sebaliknya, bagi sebagian responden, terutama yang cenderung memfavoritkan dan memilih Prabowo, faktor-faktor personal diri Jokowi yang selama ini ditunjukkannya itu justru jadi faktor kekurangannya.
Hanya saja, mana yang lebih kita butuhkan antara "Pemimpin Jujur, Sederhana, dan Merakyat" dengan "Pemimpin Jujur, Tegas, dan Cerdas"? Kalau boleh, sebenarnya kombinasi dari semua itulah yang kita butuhkan, yakni "Pemimpin yang jujur, sederhana, tegas, merakyat, dan cerdas".
Ada yang menilai bahwa Jokowi adalah pemimpin bohong, karena dia meninggalkan masa jabatannya yang belum selesai di Solo dan DKI Jakarta. Nah, soal ini memang jadi perdebatan, ada pihak yang menilai bahwa pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI didukung oleh mayoritas rakyat Solo dan pencalonan Jokowi sebagai Presiden pun didukung sebagian rakyat Jakarta dan rakyat Indonesia. Jadi, Jokowi tidak dapat disebut telah membohongi rakyat solo dan DKI Jakarta.
Sederhanakah Jokowi? Seratus persen ya. Hal itu dapat dilihat dari pakeannya, kendaraannya, rumahnya, harta benda yang dimilikinya, cara hidupnya, cara bicaranya, dan lain-lain.
Dapatkah Jokowi disebut pemimpin tegas? Kalau ukurannya karena penampilan yang tegap, intonasi suara yang suka keras dan meledak-ledak, pernyataan-pernyataan yang sering dilontarkan keras, maka Jokowi bukanlah tipe pemimpin tegas.
Tetapi kalau ukuran pemimpin tegas adalah keberanian mengambil keputusan dan siap menanggung risiko atas keputusannya, maka Jokowi sangat layak disebut sebagai pemimpin tegas. Buktinya HTI sebagai Ormas Anti Pancasila dibubarkan. Itu suatu ketegasan yang tidak bisa dibilang diktator. Sebab telah melenceng dari semboyan dan ideologi NKRI.
Cerdaskah Jokowi? Kercerdasan itu multidimensional (Howard Gardner mengatakan ada 8 kecerdasan), yaitu: kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan linguistik, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan naturalist, kecerdasan musik, kecerdasan spasial, dan kecerdasan bodyly-kinestetic.
Tanpa menjelaskan rinci, saya pikir, Jokowi memiliki beberapa dari kecerdasan itu. Artinya, Jokowi dapat disebut pemimpin cerdas. Di mana, dalam kabinet Kerja yang mengalami reshuffle tiga kali, Jokowi menyaring para Menteri yang berkompeten, dengan cara itu ia cerdas memanfaatkan tim kerja, kerja, kerja di pemerintahan.
Apakah Jokowi pemimpin yang merakyat? Kalau yang ini sudah tidak terbantahkan, bukti yang berbicara. Sejak dia Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, dia sangat dekat dengan rakyatnya, karena sangat sering turun menemui rakyatnya dengan cara jalan kaki, menggunakan sepeda motor/mobil menelusuri pedalaman Indonesia dan pernah mogok di perbatasan Kal-Bar guna berdialog dan mendengar keluhan-keluhan rakyatnya.
Prabowo Subianto, yang sempat menjadi tandem Jokowi pada perhelatan Capres 2014 lalu pernah mengunggah foto Proklamator Sukarno tengah berkuda ketika menginspeksi pasukan.
Mantan panglima Kostrad dan komandan jenderal Kopassus tersebut pernah menggunggahnya lewat akun Facebook miliknya. Hal yang sama sering dilakukan Prabowo ketika memimpin apel akbar kader Gerindra.
Gara-gara tindakannya itu, semasa kampanye Pilpres 2014, ia menjadi sasaran bully dari lawan politiknya dengan sebutan satria berkuda. Bahkan, muncul meme yang mengubah tunggangan kudanya menjadi sapi, sebagai bentuk sindirin.
Ternyata, Prabowo yang mengidolakan Sukarno baru saja mendapatkan sebuah foto menarik dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Foto tersebut menunjukkan Sukarno yang menaiki kuda tengah mempersiapkan tata cara upacara militer di Alun-Alun Yogyakarta. Hadir pula Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (kini bernama TNI) Jenderal Besar Sudirman.
Jika Prabowo memimpin akan seperti apakah model berkuda yang ditunjukkan kemudian, mungkinkah APBN juga menganggarkan pembelian kuda di setiap daerah dalam infeksi jajaran dan pelaksanaan tugas negara? Ngak kebayang, bisa saja kuda-kuda berkeliaran.
Pantaskah Prabowo menyandang pemimpin jujur? Kalau dikaitkan dengan korupsi, sampai hari ini belum ada informasi yang mengaitkan Prabowo dengan korupsi. Masalahnya adalah Prabowo belum teruji sebagai pemimpin pemerintahan, dia hanya pernah memimpin pasukan. Padahal, yang rawan korupsi itu adalah jika memimpin pemerintahan. Jadi dalam konteks ini, belum pantas Prabowo menyandang predikat pemimpin jujur.
Sedangkan bila dikaitkan dengan kejujuran dalam hal perkataan atau tindakan lain, Prabowo justru sangat berpotensi dianggap tidak jujur. Ambil contoh: dia tidak mengakui bersalah dalam peristiwa penculikan aktivis tahun 1997-1998 sementara ada bukti yang menyatakan lain, dia mengatakan tidak pernah menghina Gus Dur sementara ada orang yang mengaku menyaksikannya dan telah menulisnya di majalah Times.
Sederhanakah Prabowo? Kalau ini tidak. Bukan orang sederhana yang banyak bepergian ke luar negeri, yang memelihara kuda yang harganya mahal-mahal, yang mau mengeluarkan uang yang sangat besar untuk mengiklankan dirinya.
Dapatkah Prabowo disebut pemimpin tegas. Sebagai mantan prajurit dan mantan komandan pasukan, layaklah. Potensinya menjadi pemimpin yang tegas pun ada.
Cerdaskah Prabowo? Saya pikir, kalau ukurannya adalah multi kecerdasan sebagaimana disinggung di atas, maka sama seperti Jokowi, Prabowo pun memiliki beberapa kecerdasan. Jadi, layak kalau disebut Prabowo sebagai orang yang cerdas, walaupun mungkin dalam hal kecerdasan emosi Jokowi lebih unggul dari Prabowo.
Apakah Prabowo pemimpin yang merakyat? Untuk yang ini belum bisa dinilai, karena belum ada pengalaman memimpin rakyat. Tetapi melihat sosok Prabowo yang keras dan menurut informasi yang menyebar bahwa dianya bertempramen tinggi (kalau Anda pernah mendengar kata orang yang kenal dekat dengan Prabowo, seperti: Luhut Panjaitan, Hendropriyono), maka berat bagi Prabowo menjadi pemimpin yang merakyat. Paling-paling seperti Bapak Soehartolah, berusaha dekat ke rakyat, tetapi dia cenderung ditakuti rakyat.
Berdasarkan uraian di atas, jika pemimpin yang kita butuhkan, yakni: jujur, sederhana, tegas, cerdas, dan merakyat, maka: Prabowo memenuhi syarat sebagai pemimpin tegas dan cerdas, tetapi kurang tepat menyandang predikat pemimpin jujur, sederhana, dan merakyat.
Hinaan, cacian yang ditunjukkan kepada Jokowi dapat membuat Jokowi semakin meloncat, karena jujur, semakin dibenci, dihina, dicaci, Jokowi secara otomatis akan semakin melambungkan nama Jokowi, tak hanya melambungkan namanya, tapu tindakan tak terpuji tersebut justru berpotensi membuat posisi politik Jokowi dalam negeri kian meningkat dan mendapat posisi yang sangat menarik bagi lawan politiknya, karena jika sudah demikian sulit untuk melawab Jokowi. Yang menjadi faktor utama sulitnya melawan Jokowi adalah, karena Jokowi sungguh berbeda dari kebanyakan pemimpin.
Jokowi memenuhi syarat sebagai sebagai pemimpin jujur, sederhana, tegas, cerdas, dan merakyat. Dan yang pasti, dalam hal JUJUR, SEDERHANA, dan MERAKYAT. Untuk yang kesekian kalinya maka Jokowi sulit dilawan.
(embo)
Elektabilitas Joko Widodo dan Prabowo Subianto masih berada di urutan atas dibanding tokoh lainnya jika pemilu presiden digelar saat ini. Elektabilitas Jokowi masih relatif jauh di atas Prabowo.
Hal itu terlihat dari survei Harian Kompas yang dipublikasikan pada Mei 2017. Sebab, ada alasan mengapa publik memilih keduanya?
Bagi penyuka Jokowi, sebagian besar menganggap kinerja yang ditunjukkan Jokowi menjadi dasar pertimbangan yang kuat. Keputusan mereka tetap akan memilihnya jika terpampang foto beliau di bilik-bilik suara seluruh TPS di manapun itu tersebar di Indoensia.
Menurut data Litbang Kompas, yang tak kurang dari 34,5 persen pemilih Jokowi mengungkapkan, dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, Presiden Jokowi mampu menunjukkan capaian perubahan signifikan terhadap persoalan yang ada. Di luar aspek prestasi kerja, sisi kepribadian personal Jokowi juga jadi daya tarik terbesar kalangan pendukungnya.
Survei April 2017 menunjukkan 41,6 persen responden menyatakan, jika pemilu dilakukan saat ini, akan memilih Jokowi. Adapun Prabowo dipilih 22,1 persen responden.
Sisi personal yang ditunjukkan Jokowi, seperti upaya menunjukkan kedekatan dan keberpihakan pada masyarakat, menjadi daya tarik sekitar 19 persen pemilih. Aspek personal lainnya, seperti sikap kejujuran, kesederhanaan, dan ketegasan yang ditunjukkan, juga jadi alasan tersendiri bagi pemilih Jokowi.
Sebaliknya, bagi sebagian responden, terutama yang cenderung memfavoritkan dan memilih Prabowo, faktor-faktor personal diri Jokowi yang selama ini ditunjukkannya itu justru jadi faktor kekurangannya.
Hanya saja, mana yang lebih kita butuhkan antara "Pemimpin Jujur, Sederhana, dan Merakyat" dengan "Pemimpin Jujur, Tegas, dan Cerdas"? Kalau boleh, sebenarnya kombinasi dari semua itulah yang kita butuhkan, yakni "Pemimpin yang jujur, sederhana, tegas, merakyat, dan cerdas".
Ada yang menilai bahwa Jokowi adalah pemimpin bohong, karena dia meninggalkan masa jabatannya yang belum selesai di Solo dan DKI Jakarta. Nah, soal ini memang jadi perdebatan, ada pihak yang menilai bahwa pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI didukung oleh mayoritas rakyat Solo dan pencalonan Jokowi sebagai Presiden pun didukung sebagian rakyat Jakarta dan rakyat Indonesia. Jadi, Jokowi tidak dapat disebut telah membohongi rakyat solo dan DKI Jakarta.
![]() |
Gaya hidup NDESO-nya Bung Joko, arrahmahnews.com
|
Dapatkah Jokowi disebut pemimpin tegas? Kalau ukurannya karena penampilan yang tegap, intonasi suara yang suka keras dan meledak-ledak, pernyataan-pernyataan yang sering dilontarkan keras, maka Jokowi bukanlah tipe pemimpin tegas.
Tetapi kalau ukuran pemimpin tegas adalah keberanian mengambil keputusan dan siap menanggung risiko atas keputusannya, maka Jokowi sangat layak disebut sebagai pemimpin tegas. Buktinya HTI sebagai Ormas Anti Pancasila dibubarkan. Itu suatu ketegasan yang tidak bisa dibilang diktator. Sebab telah melenceng dari semboyan dan ideologi NKRI.
Cerdaskah Jokowi? Kercerdasan itu multidimensional (Howard Gardner mengatakan ada 8 kecerdasan), yaitu: kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan linguistik, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan naturalist, kecerdasan musik, kecerdasan spasial, dan kecerdasan bodyly-kinestetic.
Tanpa menjelaskan rinci, saya pikir, Jokowi memiliki beberapa dari kecerdasan itu. Artinya, Jokowi dapat disebut pemimpin cerdas. Di mana, dalam kabinet Kerja yang mengalami reshuffle tiga kali, Jokowi menyaring para Menteri yang berkompeten, dengan cara itu ia cerdas memanfaatkan tim kerja, kerja, kerja di pemerintahan.
Apakah Jokowi pemimpin yang merakyat? Kalau yang ini sudah tidak terbantahkan, bukti yang berbicara. Sejak dia Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, dia sangat dekat dengan rakyatnya, karena sangat sering turun menemui rakyatnya dengan cara jalan kaki, menggunakan sepeda motor/mobil menelusuri pedalaman Indonesia dan pernah mogok di perbatasan Kal-Bar guna berdialog dan mendengar keluhan-keluhan rakyatnya.
Prabowo Subianto, yang sempat menjadi tandem Jokowi pada perhelatan Capres 2014 lalu pernah mengunggah foto Proklamator Sukarno tengah berkuda ketika menginspeksi pasukan.
Mantan panglima Kostrad dan komandan jenderal Kopassus tersebut pernah menggunggahnya lewat akun Facebook miliknya. Hal yang sama sering dilakukan Prabowo ketika memimpin apel akbar kader Gerindra.
![]() |
| Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto berkeliling menaiki kuda untuk menyapa para simpatisan Gerindra, saat kampanye akbar di Gelora Bung Karno, 2014. |
Ternyata, Prabowo yang mengidolakan Sukarno baru saja mendapatkan sebuah foto menarik dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Foto tersebut menunjukkan Sukarno yang menaiki kuda tengah mempersiapkan tata cara upacara militer di Alun-Alun Yogyakarta. Hadir pula Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (kini bernama TNI) Jenderal Besar Sudirman.
![]() |
| Proklamator Sukarno berkuda sembari menginspeksi pasukan TKR. |
Pantaskah Prabowo menyandang pemimpin jujur? Kalau dikaitkan dengan korupsi, sampai hari ini belum ada informasi yang mengaitkan Prabowo dengan korupsi. Masalahnya adalah Prabowo belum teruji sebagai pemimpin pemerintahan, dia hanya pernah memimpin pasukan. Padahal, yang rawan korupsi itu adalah jika memimpin pemerintahan. Jadi dalam konteks ini, belum pantas Prabowo menyandang predikat pemimpin jujur.
Sedangkan bila dikaitkan dengan kejujuran dalam hal perkataan atau tindakan lain, Prabowo justru sangat berpotensi dianggap tidak jujur. Ambil contoh: dia tidak mengakui bersalah dalam peristiwa penculikan aktivis tahun 1997-1998 sementara ada bukti yang menyatakan lain, dia mengatakan tidak pernah menghina Gus Dur sementara ada orang yang mengaku menyaksikannya dan telah menulisnya di majalah Times.
Sederhanakah Prabowo? Kalau ini tidak. Bukan orang sederhana yang banyak bepergian ke luar negeri, yang memelihara kuda yang harganya mahal-mahal, yang mau mengeluarkan uang yang sangat besar untuk mengiklankan dirinya.
![]() |
| Prabowo Naik Kuda, |
Cerdaskah Prabowo? Saya pikir, kalau ukurannya adalah multi kecerdasan sebagaimana disinggung di atas, maka sama seperti Jokowi, Prabowo pun memiliki beberapa kecerdasan. Jadi, layak kalau disebut Prabowo sebagai orang yang cerdas, walaupun mungkin dalam hal kecerdasan emosi Jokowi lebih unggul dari Prabowo.
Apakah Prabowo pemimpin yang merakyat? Untuk yang ini belum bisa dinilai, karena belum ada pengalaman memimpin rakyat. Tetapi melihat sosok Prabowo yang keras dan menurut informasi yang menyebar bahwa dianya bertempramen tinggi (kalau Anda pernah mendengar kata orang yang kenal dekat dengan Prabowo, seperti: Luhut Panjaitan, Hendropriyono), maka berat bagi Prabowo menjadi pemimpin yang merakyat. Paling-paling seperti Bapak Soehartolah, berusaha dekat ke rakyat, tetapi dia cenderung ditakuti rakyat.
Berdasarkan uraian di atas, jika pemimpin yang kita butuhkan, yakni: jujur, sederhana, tegas, cerdas, dan merakyat, maka: Prabowo memenuhi syarat sebagai pemimpin tegas dan cerdas, tetapi kurang tepat menyandang predikat pemimpin jujur, sederhana, dan merakyat.
Hinaan, cacian yang ditunjukkan kepada Jokowi dapat membuat Jokowi semakin meloncat, karena jujur, semakin dibenci, dihina, dicaci, Jokowi secara otomatis akan semakin melambungkan nama Jokowi, tak hanya melambungkan namanya, tapu tindakan tak terpuji tersebut justru berpotensi membuat posisi politik Jokowi dalam negeri kian meningkat dan mendapat posisi yang sangat menarik bagi lawan politiknya, karena jika sudah demikian sulit untuk melawab Jokowi. Yang menjadi faktor utama sulitnya melawan Jokowi adalah, karena Jokowi sungguh berbeda dari kebanyakan pemimpin.
Jokowi memenuhi syarat sebagai sebagai pemimpin jujur, sederhana, tegas, cerdas, dan merakyat. Dan yang pasti, dalam hal JUJUR, SEDERHANA, dan MERAKYAT. Untuk yang kesekian kalinya maka Jokowi sulit dilawan.
(embo)






No comments:
Post a Comment