Presiden Joko Widodo menyampaikan via laman facebooknya, mereka seraya menikmati masakan ikan, sayur bunga pepaya dan nasi merah, kami berbicara tentang kesejahteraan prajurit TNI, tentang tunjangan khusus prajurit sesuai tingkat kemahalan di wilayah tugas dan kebutuhan rumah untuk mereka.
Bagi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang baru beberapa hari dilantik memberikan laporan bahwa masa transisi peralihan kepemimpinan di tubuh TNI telah berjalan sesuai rencana. Solidaritas di tubuh TNI sangat kuat, begitu juga juga solidaritas dengan Polri.
Usai pertemuan makan siang tersebut, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyampaikan hasil pertemuannya dengan Jokowi. Ia mengatakan prajurit TNI di perbatasan akan mendapatkan insentif khusus. Ini dilakukan agar mereka bisa tenang dalam menjalankan tugas dan meninggalkan keluarga di rumah.
"Mereka di sana (perbatasan) kita hargai dengan memberi insentif, sehingga mereka mendapatkan tunjangan-tunjangan khusus yang harus diberikan pada prajurit yang ada di sana," kata Hadi seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Kamis, 14 Desember 2017.
Dalam pertemuan dengan Jokowi, Hadi didampingi Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mulyono dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi.
Pertemuan itu berlangsung sekitar satu setengah jam dan membahas sejumlah hal. Selain soal kesejahteraan prajurit, mereka juga membahas soal soliditas TNI dan Polri, dan penguatan industri pertahanan.
Hadi mengatakan, besarnya tunjangan khusus untuk prajurit yang bertugas jauh dari satuan induk di Jakarta itu akan dibahas kemudian. Evaluasi akan dilakukan mengingat saat ini harga-harga sudah banyak yang naik.
Dengan tunjangan khusus ini, para prajurit TNI nantinya tidak perlu membawa tunjangan uang lauk pauk (ULP) ke perbatasan. Mereka bisa menggunakan ULP untuk kebutuhan anak istri yang ditinggalkan di rumah.
"Sehingga mereka tenang juga meninggalkan ULP dan gaji di rumah, karena mereka bertugas lebih dari enam bulan, hampir satu tahun," ujar Hadi dilansir dari Tempo.
Selain soal tunjangan, kesejahteraan prajurit dalam bentuk kepemilikan rumah pribadi juga menjadi bahasan. Menurut Hadi, bila para prajurit sudah memiliki rumah pribadi, mereka akan merasa aman dan nyaman, karena kebutuhan pokok berupa perumahan bisa dipenuhi.
Selama ini, menurut Panglima TNI, TNI AD setiap tahun membangun lebih dari 1.000 rumah untuk prajurit. Demikian juga matra lainnya. Proses pembangunan rumah tersebut terus dilakukan. "Bahkan saya diminta untuk melaporkan apa yang diperlukan untuk prajurit," ujar Hadi.
Majukan Industri Pertahanan Negeri
Pertemuan yang berlangsung sekitar 1,5 jam di ruang keluarga gedung induk Istana Bogor. Pembicaraan Jokowi beserta petinggi TNI tersebut juga membahas masalah hasil industri strategis seperti yang dilakukan PT PAL, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia sangat diperlukan untuk mendukung pertahanan.
Penguatan di industri tersebut sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan TNI. "Harapannya adalah kemandirian industri strategis secara perlahan, sehingga kita tidak tergantung dengan industri-industri dari luar negeri," tuturnya.
"Ada kapal-kapal yang mungkin lebih besar akan dibangun di mana, kalau lebih kecil, akan dibangun di mana," ujarnya.
Praktik ini sama dengan industri kapal di negara lain. Hadi Tjahjanto mencontohkan PT PAL di Surabaya saat ini terbatas pada produksi kapal ringan. Karena itu, galangan kapal untuk membuat kapal yang lebih besar akan dibangun di tempat lain.
[ed.L]


No comments:
Post a Comment