![]() |
| Jl. Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta |
Mereka menuntut Pemprov DKI kembali membuka jalur Jatibaru, Tanah Abang yang ditutup demi memberi ruang bagi pedagang kaki lima berjualan mulai pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB.
Dikutip pada Tempo, loordinator aksi, Andreas, mengatakan ia dan kawan-kawan meminta Gubernur Anies Baswedan agar bertanggung jawab atas nasib pengemudi angkot yang jalurnya kini telah diambil untuk PKL.
![]() |
| Demonstrasi terkait aturan penutupan jalan di Tanah Abang yang dilakukan para supir angkot di depan Balai Kota, Jakarta, pada Senin, 22 Januari 2018./Tempo |
Namun, bukan Anies maupun Wakil Gubernur Sandiaga Uno yang menerima perwakilan para pengemudi tersebut melainkan Kepala Dinas Perhubungan Andri Yansyah. Pertemuan perwakilan pengemudi dan Andir Yansyah itu berakhir sekitar pukul 12.36 WIB.
Andreas mengatakan dalam aksi itu sedikitnya ada 500 peserta yang terdiri dari warga dan sopir. Adapun pengemudi angkot yang mengikuti aksi ini yakni diantaranya trayek 03, 05, 08, dan 010.
Aksi itu, menuntut bisa bertemu dengan Gubernur Anies Baswedan secara langsung. Bila Anies tak mau bertemu, dia akan menemui pemimpin DPRD supaya menggunakan hak interpelasi untuk mengoreksi kebijakan Gubernur Anies Baswedan di Tanah Abang.
"Kami akan minta mereka menggunakan hak interpelasi untuk memanggil Gubernur DKI," ucap Andreas.
Kritik tak hanya datang dari pengemudi angkot. Polda Metro Jaya dan Badan Pengelola Transportasi Jabodertabek (BPJT) Kementerian Perhubungan pun tak setuju dengan penutupan jalan tersebut karena melanggar sejumlah undang-undang dan peraturan gubernur.
Pendapatan Sopir Turun
Andreas mengatakan akibat penerapan kebijakan penutupan jalan Jati Baru itu setidaknya telah membuat pendapatan para supir menurun hingga 60 persen. Saat ditanya mengenai angka nominal, Andreas tak mau mengungkap lebih lanjut.
“Diperparah adanya bus eksplorer itu. Pokoknya kami juga minta bus itu ditiadakan,” katanya.
![]() |
| Ilustrasi Angkot. Postkota |
“Itu kan fungsinya untuk kendaraan, sesuai dengan fungsinya dan harus dikembalikan ke fungsi semula. Trotoar ya jadi trotoar, jalan ya jadi jalan bukan tempat jualan,” kata dia.
Selain itu, Andreas juga menyebut penderitaan para supir angkot ini diperparah dengan adanya bus TransJakarta Explorer yang mengangkut penumpang di kawasan Tanah Abang.
m.i.k.



No comments:
Post a Comment