Memalukan! Borok 212 Al-Monas cuma panggung aksi politik - Indowordnews

Breaking

14 January 2018

Memalukan! Borok 212 Al-Monas cuma panggung aksi politik

Rizieq kini meninggalkan Indonesia, ibarat kata "dia yang kentut orang lain yang mencium sisa bau". Tak ayal aksi monas pun menyisakan sampah berserakan dan jejak memalukan dinegeri ini.

Andai Sekjen Forum Umat Islam, Al Khaththath tak melayangkan protes terhadap tiga partai politik mungkin aksi berjilid-jilid itu dianggap paling suci selama ini, namun kini Gerindra, PAN, dan PKS yang disesalkan itu memberi sinyal, atas borok aksi 212. Di mana isu rekomendasi para ulama presidium 212 pada Pilkada serentak 2018 yang tak digubris tiga parpol tersebut.

Satu di antaranya, rekomendasi untuk mengusung La Nyalla Mahmud Matalitti pada Pilkada Jawa Timur 2018. Inilah sedikit borok tersembunyi dibalik aksi berjilid itu memberikan gambaran hidup oknum yang memanfaatkan agenda politik.
Jokowi dan Jusuf Kalla berjalan kaki di tengah hujan rintik-rintik. Jokowi dan Jusuf Kalla membawa payung. Payung Jokowi berwarna biru. Mereka berjalan kaki menuju ke lapangan Monumen Nasional.
Dibeberapa waktu lalu, Presiden Jokowi dan beberapa kabinetnya sempat menghadiri aksi ini di penghujung 2016 sambil hujan-hujanan demi kebaikan, namun ada sebagian pelawak, artis serta masyarakat dan tokoh agama diseantero Indonesia hadir atas komando FPI, FUI, dan sejumlah ormas (7 juta).

Al Khaththath berpandangan, kemenangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI Jakarta 2017 tak lepas dari peran para ulama. Demikian pun La Nyalla "Cuma saya ingatkan kepada ulama dan umat, jangan mau lagi ditumpangi sama partai-partai yang tidak jelas. Ini ulama dan aksi bela Islam ini cuma ditumpangi, kemudian dia yang menikmati ternyata dia mencopeti orang-orang," ujar La Nyalla. Jadi, dari sini ada titik terang yang nyata 212 aksi politik, bukan agama.

Alhamdulillah. Akhirnya kita harus bersyukur karena satu persatu kebohongan aksi 212 yang katanya untuk bela Islam itu terbongkar. Allah memang maha asik, dan punya cara-cara tak terduga untuk membuka kemunafikan dan kebohongan yang dilakukan oleh media yang mengatasnamakan media islam. Pada saat aksi 212 diberitakan ada banyak logistik yang dibagikan gratis. Katanya semua dari sumbangan masyarakat. Ada salah satu tokoh ustad bayaran mengatakan ini seperti surga, semua gratis. [klik seword]

Maka, jika kelak ditanya diakhiratnya "atas niat apa kumpul dimonas? " Jawaban pasti demi Agama. Tuhan dan malaikat menjawabnya akan seperti apa? Ternyata manusia pun bisa menebak, jawabannya "bukan agama, tapi duit dan kekuasaan".

Di sisi lain, herannya, pesan dan wejangan penuh sumpah serapah dari Rizieq Shihab kerap dimakan mentah-mentah oleh pengikut dan oknum politisi di DKI Jakarta. Di mana, cacian dan makian serta doa tak beradab pernah dimunajatkan ulama politik satu ini.

Sandaran, ulama yang memikirkan dunia politik bukan kebaikan agama yang hakiki yang ia sampaikan menjadi noda malu. Kecintaan dunia adalah idolanya walau  berbalut sorban, hanya demi Partai yang disebut Al-Khaththath di atas demi kepentingan menguasai Jakarta dan kekayaannya.
Perjalanan Anies-Sandiaga menjadi pemimpin baru Ibu Kota Jakarta tak terlepas dari peran 212.
Nyata, HRS asik-asik jalan beserta keluarga karena imun atas hukum di negerimu dan dibiayai hasil jerit payah jual ayat wal mayat. Setelah panen hasil miliaran dari sogokan,,hm siapa lagi kalau bukan yang DKI saat ini berkuasa membayar maharnya.
Rizieq Shihab dan keluarga di Turki. Sumber Gambar
Lebih gilanya lagi, hasil propaganda di DKI bakal disebarkan virusnya ke beberapa wilayah dengan siasat memantau isu. Sedikit isu bakal berbahaya jika digoreng oleh jidat hitam politisi ayat ini.

Walau Novel Bamukmin membantah Garda 212 bukan bagian dari mereka, PA 212. Namun Sambo tetap menjadi kuda hitam Rizieq itu sendiri, adalah para pelaku yang sama dalam aksi 212.
Ansufri Idrus Sambo bersama Garda 212 akan memantau calon kepala daerah selama pilkada serentak. (CNN Indonesia)
Dilansir dari CNN Indonesia, Ketua Umum Garda 212 Ansufri Idrus Sambo menyatakan pihaknya akan memantau pergerakan pasangan calon kepala daerah di seluruh daerah dalam Pilkada Serentak 2018.

Mereka, sambung Sambo, bahkan tak segan-segan akan mengerahkan umat untuk menggelar aksi selama pilkada.
Reuni Aksi 212/merdeka.com
Mantan Ketua Presidium Alumni 212 itu mengatakan, pantauan dilakukan untuk memastikan kemenangan pilkada bisa diraih pemimpin yang mendahulukan kepentingan umat.

“Iya, kami memantau terus, ini untuk kepentingan kita semua, untuk umat agar yang sudah-sudah tak terjadi lagi,” kata Sambo di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (13/1).
Memalukan! Borok 212 Al-Monas cuma panggung aksi politik
Sambo mengatakan, bukan tidak mungkin pola aksi yang pernah digelar selama pilgub DKI Jakarta 2017 juga dilakukan di daerah lain pada pilkada serentak. Karena itu, dia akan memantau jika ada indikasi calon pemimpin di daerah yang melakukan kesalahan.

"Mungkin pola-polanya aksi saja, bisa kita tarik umat kayak (aksi) di Jakarta, tapi mungkin kami tidak bisa datang ke daerah, ya orang sana yang melakukan aksi. Kami hanya berikan masukan, nanti pakai umat," kata Sambo.

Pada pilgub DKI Jakarta 2017, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menjadi kelinci percobaan. Dia calon gubernur petahana terjerat kasus penodaan agama karena digoreng dan diolah menjadi pusat isu yang laris selama masa kampanye, Ahok berkali-kali dihujat melalui Aksi Bela Islam oleh kelompok massa Gerakan Nasional Pengawal Fatwa.
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat
Bahkan Djarot tak luput dari hinaan dan ujaran kebencian saat diteriaki di sebuah masjid dan pengajian atas undangan Tutut dalam Haul Soeharto, walau dia sendiri seorang muslim tak luput dari persekusi 212 dalam frame politik. Agama sudah bias dan kabur dari makna esensinya sebagai pencerminan mengikuti nilai keutuhan Tuhan yang maha kasih dan sayang menjadi kebencian berapi-api.

Demonstrasi yang digelar pada 2 Desember 2016 atau Aksi 212 adalah bagian dari gelombang protes berjilid menuntut Ahok. Sambo pun mengatakan, aksi semacam itu bisa saja digelar di daerah lain.

Garda 212 kini juga dibentuk sebagai wadah alumni dan simpatisan aksi 212 yang ingin berkiprah dalam politik praktis.

Wadah ini dibentuk oleh Presidium alumni 212 sebagai sayap baru. Tujuannya, untuk menyeleksi para calon anggota legislatif yang ingin bertarung di Pemilu 2019. Nantinya, para alumni yang akan maju akan diseleksi dan disaring oleh Garda, sebelum direkomendasikan kepada partai.
Namun apa nyana? Mirisnya antara langit bumi, ada yang diundi untung rugi demi sang Tuan, yang mulia bisa selamat yang awam menjadi jamban titian masa merengkuh untuk memberi julukan sedangkan yang lainnya berpanas-panas atas nama jihad bersyariah hanyalah fatamorgana!

Jihad itu diperang melawan hawa nafsu bukan di monas dan sekitarnya demi seorang Gub/Wagubernur yang termahal yang memiliki mahar (klik pidato Prabowo) dan banyak uang tapi merusak tatanan Jakarta yang telah membaik di era sebelumnya.

Ternyata manusia manapun tak terlepas dari putih bernoda hitam. Kejut tarik kekuatan hanya disinggasana Nya Ilahi. ... Rasanya menyesal memperalat manusia lain demi satu kata terrrrlaluuu haus! Agama menjadi corong politisi yang dahaga kuasa dan bergelanyut disanubarinya hingga kubur menjadi sekat dunia. 

Embo.
Tulisan ini tanggung jawab penulis bukan pemilik website. Bersuara demi keadilan Islam dan menghukum para penghancur nilai keislaman itu sendiri. Mari Tabayun, bukanlah menjadi orang berwawasan cetek, main lapor segala, tapi putar haluan pikir secara jernih...[Mencari Kebenaran Hakiki, bukan Radikalis, bukan Islam karena faktor turunan yang taklid buta, ini era transparansi dan metode pikir syariah dan manhaj yang sama namun berbeda tafsir. Anda dan Sayalah kunci keberkeyakinan beragama itu menurut tafsir yang sesuai kemajemukan!]...



***


No comments:

Post a Comment