Tidak hanya melihat fenomena gizi buruk di kawasan Asmat, Papua yang terpencil. Di kawasan pusat kota seperti Depok tak dapat dilupakan.
Sejak akhir 2017 sebanyak 80 balita di Kota Depok tercatat mengalami gizi buruk.
Data yang ada pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, menunjukkan ke-80 balita yang menderita gizi buruk itu tersebar di 11 kecamatan. Sebagian balita yang mengalaminya disebabkan oleh penyakit penyerta.
Kepala Dinkes Depok Lies Karmawati, Selasa (12/12/2017), menjelaskan, sebenarnya jumlah balita penderita gizi buruk di Depok sudah menurun setiap tahunnya, apalagi dibandingkan data yang ada pada 13 tahun lalu.
"Dibandingkan 13 tahun lalu, jumlahnya mencapai 500 kasus. Jumlah tahun ini sudah jauh menurun. Sampai tahun ini masih ada 80 balita gizi buruk di Depok," kata Lies.
Menurutnya, Pemkot Depok melalui Dinkes Depok terus melakukan upaya menekan angka gizi buruk ini setiap tahunnya.
"Kesuksesannya harus dilakukan bersama, baik oleh dinas, kader hingga masyarakat luas. Targetnya tiap tahun turun 50 persen dari total penderita,” kata Lies.
Ia juga mengemukakan, langkah yang dilakukan dalam menangani anak yang terkena kasus gizi buruk adalah dengan cara memberikan makanan tambahan. Hal ini dilakukan selama 90 hari.
"Lalu dilakukan evaluasi kondisi status gizinya. Kalau tidak ada perbaikan maka diberikan lagi makanan tambahannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan kasus gizi buruk harus dilakukan melalui aksi perbaikan gizi atau pemberian makanan tambahan agar gizi anak tercukupi. Asupan yang diberikan selain harus bergizi, juga harus sehat dan berimbang.
"Unsurnya harus ada karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Mineralnya sendiri bisa berasal dari sayuran dan buah,” kata dia.
Lies juga menyampaikan, pihaknya juga mengedepankan edukasi terhadap calon ibu. Pada kasus gizi buruk, penyebab utama yang ditemukan ialah kurangnya asupan gizi yang seimbang.
"Namun, pada kasus stunting atau bayi lahir pendek, penyebabnya adalah ketidaktahuan calon ibu saat hamil," tuturnya.
Jadi, ujarnya, pada kasus stunting, hal yang terjadi bukan karena kesalahan pemberian makanan melainkan kesalahan saat bayi masih berada dalam kandungan.
"Karena itu kita memberikan edukasi untuk pencegahan sehingga tidak terjadi lagi," kata dia.
Pihak Dinkes, kata Lies, sangat berharap kasus gizi buruk di Depok bisa ditekan hingga titik nol. Oleh sebab itu pihaknya tetap terus berupaya menekan walaupun angkanya sudah beada di bawah 100 kasus.
"Terakhir stuck di angka 80. Ini yang sedang kami analisis untuk mencari penyebabnya," katanya.
Menurut Lies, hasil analisis awal menunjukkan, masih adanya kasus gizi buruk lebih disebabkan oleh pengaruh penyakit penyerta. Di antaranya ada balita yang menderita gizi buruk akibat penyakit penyerta seperti hydrocepalus atau gangguan jantung.
"Oleh karenanya kita memberikan edukasi pada ibu-ibu supaya memberikan asupan gizi yang sehat dan seimbang," kata Lies [Warta Kota].
Berdasarkan data 2016, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok mencatat ada 8.855 bayi dibawah lima tahun (balita) di Depok yang kini menderita masalah kurang gizi kronis atau stunting.
Data yang ada pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, menunjukkan ke-80 balita yang menderita gizi buruk itu tersebar di 11 kecamatan. Sebagian balita yang mengalaminya disebabkan oleh penyakit penyerta.
Kepala Dinkes Depok Lies Karmawati, Selasa (12/12/2017), menjelaskan, sebenarnya jumlah balita penderita gizi buruk di Depok sudah menurun setiap tahunnya, apalagi dibandingkan data yang ada pada 13 tahun lalu.
"Dibandingkan 13 tahun lalu, jumlahnya mencapai 500 kasus. Jumlah tahun ini sudah jauh menurun. Sampai tahun ini masih ada 80 balita gizi buruk di Depok," kata Lies.
![]() |
| Wali Kota Depok, KH Mohammad Idris, MA |
"Kesuksesannya harus dilakukan bersama, baik oleh dinas, kader hingga masyarakat luas. Targetnya tiap tahun turun 50 persen dari total penderita,” kata Lies.
Ia juga mengemukakan, langkah yang dilakukan dalam menangani anak yang terkena kasus gizi buruk adalah dengan cara memberikan makanan tambahan. Hal ini dilakukan selama 90 hari.
"Lalu dilakukan evaluasi kondisi status gizinya. Kalau tidak ada perbaikan maka diberikan lagi makanan tambahannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanganan kasus gizi buruk harus dilakukan melalui aksi perbaikan gizi atau pemberian makanan tambahan agar gizi anak tercukupi. Asupan yang diberikan selain harus bergizi, juga harus sehat dan berimbang.
"Unsurnya harus ada karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Mineralnya sendiri bisa berasal dari sayuran dan buah,” kata dia.
Lies juga menyampaikan, pihaknya juga mengedepankan edukasi terhadap calon ibu. Pada kasus gizi buruk, penyebab utama yang ditemukan ialah kurangnya asupan gizi yang seimbang.
"Namun, pada kasus stunting atau bayi lahir pendek, penyebabnya adalah ketidaktahuan calon ibu saat hamil," tuturnya.
Jadi, ujarnya, pada kasus stunting, hal yang terjadi bukan karena kesalahan pemberian makanan melainkan kesalahan saat bayi masih berada dalam kandungan.
"Karena itu kita memberikan edukasi untuk pencegahan sehingga tidak terjadi lagi," kata dia.
Pihak Dinkes, kata Lies, sangat berharap kasus gizi buruk di Depok bisa ditekan hingga titik nol. Oleh sebab itu pihaknya tetap terus berupaya menekan walaupun angkanya sudah beada di bawah 100 kasus.
"Terakhir stuck di angka 80. Ini yang sedang kami analisis untuk mencari penyebabnya," katanya.
Menurut Lies, hasil analisis awal menunjukkan, masih adanya kasus gizi buruk lebih disebabkan oleh pengaruh penyakit penyerta. Di antaranya ada balita yang menderita gizi buruk akibat penyakit penyerta seperti hydrocepalus atau gangguan jantung.
"Oleh karenanya kita memberikan edukasi pada ibu-ibu supaya memberikan asupan gizi yang sehat dan seimbang," kata Lies [Warta Kota].
Berdasarkan data 2016, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok mencatat ada 8.855 bayi dibawah lima tahun (balita) di Depok yang kini menderita masalah kurang gizi kronis atau stunting.
Ini berarti ada sekitar 6,63 persen balita di Depok dari jumlah total balita sebanyak 133.466 pada 2016, yang mengalami masalah kurang gizi kronis atau stunting.
Stunting kata dia adalah masalah kurang gizi kronis pada bayi yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan akan nampak saat anak berusia dua tahun.
Dampak jelas akibat kekurangan gizi pada usia dini ini diantaranya postur tubuh yang tak maksimal atau pendek, selain.yang paling fatal adalah kematian bayi dan anak serta menyebabkan penderitanya mudah sakit.
Dampak jelas akibat kekurangan gizi pada usia dini ini diantaranya postur tubuh yang tak maksimal atau pendek, selain.yang paling fatal adalah kematian bayi dan anak serta menyebabkan penderitanya mudah sakit.
Diketahui, Walikota Depok, Dr. KH Mohammad Idris. Dengan latar belakang pendidikan Walikota depok ialah, Ushuluddin Dakwah, Universitas Imam Mohammad Ibnu Daud Gassim, Saudi Arabia, 1986-1990 : S2 Dakwah Komunikasi, Universitas Imam Mohammad Ibnu Daud Gassim, Saudi Arabia. 1990-1997 : S3 Syariah Tsaqofah Islamiyah, Universitas Imam Mohammad Ibnu Daud Gassim, Saudi Arabial.Pemerintah Kota Depok terus berusaha semaksimal mungkin meningkatkan pelayanan kepada warga ke semua wilayah.— KH.Dr.Mohammad Idris (@IdrisAShomad) 10 Januari 2018
(Peresmian Kantor Kelurahan Pengasinan, 10/01/2018) pic.twitter.com/iElb9X321Z
[edy]




No comments:
Post a Comment