Sebelum itu media dan publik mengupas prilaku Zaadit (Ketua BEM UI) yang mengacungkan Map Kuning kepada Presiden Joko Widodo dalam acara formal Dies Natalis UI ke - 68.
Anggapan kita yang waras sebenarnya wajar memberikan sebuah balasan dari menyuarakan pendapat yang tidak pada tempatnya tersebut, paling tidak anak ini harus tahu sopan santun. Terlebih Wakil Ketua DPR Fadli Zon kembali membuat puisi kritik untuk pemerintah. Kali ini berjudul "Sajak Peluit Kartu Kuning".
Secara umum, simbol warna terang seperti halnya kuning, memberikan kesan ceria, bahagia, energik, dan rasa optimis. Adapun penggunaan warna kuning pada ruangan dipercaya mampu merangsang aktivitas pikiran dan mental, bahkan berdampak pada meningkatnya kemampuan analisis seseorang.
Muncul satu anggapan, mereka yang menyukai warna kuning cenderung lebih bijaksana, cerdas (akademis), kreatif, serta piawai dalam menciptakan ide dan berinovasi. Sayangnya, seluruh manfaat positif tersebut tidak lepas dari risiko kecemasan, inkonsisten, rasa gelisah, bahkan tekanan stres–khususnya bagi mereka si penggemar warna kuning.
Ketua BEM UI dan segelintir orang yang menyetujui kartu/map/simbol kuning pada Presiden pada dasarnya sedang mengalami "Kecemasan Akut", dihantui diri sendiri. Konon Ketua BEM UI ini mengalami stres saat Jokowi naik menjadi Presiden.
Orang-orang berfikiran tinggi mungkin landasan baik cara kita berfikir terhadap pemimpin bangsa. Bukan selevel Ketua BEM UI yang tahunya cuma congor-dan congor seperti Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon, keduanya sama rendahnya cara bernalar. Kita setuju denga para profesor yang justru antusias sekali berswa foto dengan Jokowi. Mereka adalah kaum intelektual yang sudah memiliki daya tampung berfikir di atas rata-rata, kok mau berselfie ria.
Mungkin jawaban congor itu hanya dapat di lihat pada sebuah Puisi Fadli Zon yang dibuat untuk mengapresiasi aksi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Zaadit Taqwa yang mengacungkan kartu kuning ke hadapan Presiden Joko Widodo.
Dalam puisinya, Fadli menceritakan mengenai mahasiswa di era saat ini yang kurang kritis terhadap pemerintah. Namun, pada akhirnya muncul aksi kartu kuning yang membuat suara kritis mahasiswa kembali terdengar.
Berikut puisi terbaru Fadli Zon yang melansir laman Kompas.com lewat aplikasi berbagi pesan, Senin (5/1/2018) pagi dan lampiran akun twitter Fadli Zon.
Sajak peluit kartu kuning
seperti mulut tersumpal kain
kau tak bisa bersuara
tak ada kata terdengar
tak ada kalimat tersiar
apalagi pidato berkobar
kemana gerangan
mahasiswa penggerak zaman
di era kematian logika
ketika dagelan jadi pemeran utama
rakyat makin menderita
biaya hidup menggila
listrik bensin gas sembako melonjak naik
harga diri terus tercabik
utang meroket juara
busung lapar headline berita
nyawa melayang banting harga
kau seolah menutup mata
tiada suara rintihan
tiada sayup-sayup desahan
apalagi orasi perjuangan
kemana gerangan
mahasiswa penggerak zaman
tiba-tiba kau tiup peluit nyaring
tanganmu mengacung kartu kuning
Balairung UI memecah sunyi
bergaung sampai ke pojok-pojok negeri
mengabarkan peringatan
tumpukan pelanggaran
tanpa kata-kata dan basa basi
kini kutahu dimana kau berdiri
Fadli Zon, 4 Februari 2018
Kartu kuning
Aksi kartu kuning kepada Jokowi terjadi pada Jumat (2/1/2018). Saat itu, Jokowi masih berada di atas panggung seusai memberikan sambutan di acara Dies Natalies UI di kampus UI, Depok.
Saat sesi foto bersama, tiba-tiba saja Ketua BEM UI Zaadit Taqwa mengacungkan kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo sambil meniup peluit.
Akibat aksi tersebut, Zaadit diamankan Paspampres keluar ruangan Balairung UI.
Menanggapi aksi itu, Jokowi ingin agar pengurus BEM UI ikut melihat dan menyaksikan kondisi yang ada di Kabupaten Asmat, Papua.
"Mungkin nanti, ya, mungkin nanti saya akan kirim semua ketua dan anggota di BEM untuk ke Asmat, dari UI, ya," kata Presiden Joko Widodo setelah menghadiri Haul Majemuk Masyayikh di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (3/2/2018), seperti dikutip Antara.
"Biar lihat bagaimana medannya yang ada di sana kemudian problem-problem besar yang kita hadapi di daerah-daerah, terutama Papua," katanya. Presiden Joko Widodo menghadiri Dies Natalis ke-68 Universitas Indonesia tersebut menekankan pentingnya perguruan tinggi harus melakukan banyak inovasi.
Embo.
Anggapan kita yang waras sebenarnya wajar memberikan sebuah balasan dari menyuarakan pendapat yang tidak pada tempatnya tersebut, paling tidak anak ini harus tahu sopan santun. Terlebih Wakil Ketua DPR Fadli Zon kembali membuat puisi kritik untuk pemerintah. Kali ini berjudul "Sajak Peluit Kartu Kuning".
Secara umum, simbol warna terang seperti halnya kuning, memberikan kesan ceria, bahagia, energik, dan rasa optimis. Adapun penggunaan warna kuning pada ruangan dipercaya mampu merangsang aktivitas pikiran dan mental, bahkan berdampak pada meningkatnya kemampuan analisis seseorang.
Muncul satu anggapan, mereka yang menyukai warna kuning cenderung lebih bijaksana, cerdas (akademis), kreatif, serta piawai dalam menciptakan ide dan berinovasi. Sayangnya, seluruh manfaat positif tersebut tidak lepas dari risiko kecemasan, inkonsisten, rasa gelisah, bahkan tekanan stres–khususnya bagi mereka si penggemar warna kuning.
Ketua BEM UI dan segelintir orang yang menyetujui kartu/map/simbol kuning pada Presiden pada dasarnya sedang mengalami "Kecemasan Akut", dihantui diri sendiri. Konon Ketua BEM UI ini mengalami stres saat Jokowi naik menjadi Presiden.
Orang-orang berfikiran tinggi mungkin landasan baik cara kita berfikir terhadap pemimpin bangsa. Bukan selevel Ketua BEM UI yang tahunya cuma congor-dan congor seperti Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon, keduanya sama rendahnya cara bernalar. Kita setuju denga para profesor yang justru antusias sekali berswa foto dengan Jokowi. Mereka adalah kaum intelektual yang sudah memiliki daya tampung berfikir di atas rata-rata, kok mau berselfie ria.
Mungkin jawaban congor itu hanya dapat di lihat pada sebuah Puisi Fadli Zon yang dibuat untuk mengapresiasi aksi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Zaadit Taqwa yang mengacungkan kartu kuning ke hadapan Presiden Joko Widodo.
Dalam puisinya, Fadli menceritakan mengenai mahasiswa di era saat ini yang kurang kritis terhadap pemerintah. Namun, pada akhirnya muncul aksi kartu kuning yang membuat suara kritis mahasiswa kembali terdengar.
Berikut puisi terbaru Fadli Zon yang melansir laman Kompas.com lewat aplikasi berbagi pesan, Senin (5/1/2018) pagi dan lampiran akun twitter Fadli Zon.
Sajak peluit kartu kuning
seperti mulut tersumpal kain
kau tak bisa bersuara
tak ada kata terdengar
tak ada kalimat tersiar
apalagi pidato berkobar
kemana gerangan
mahasiswa penggerak zaman
di era kematian logika
ketika dagelan jadi pemeran utama
rakyat makin menderita
biaya hidup menggila
listrik bensin gas sembako melonjak naik
harga diri terus tercabik
utang meroket juara
busung lapar headline berita
nyawa melayang banting harga
kau seolah menutup mata
tiada suara rintihan
tiada sayup-sayup desahan
apalagi orasi perjuangan
kemana gerangan
mahasiswa penggerak zaman
tiba-tiba kau tiup peluit nyaring
tanganmu mengacung kartu kuning
Balairung UI memecah sunyi
bergaung sampai ke pojok-pojok negeri
mengabarkan peringatan
tumpukan pelanggaran
tanpa kata-kata dan basa basi
kini kutahu dimana kau berdiri
Fadli Zon, 4 Februari 2018
Mengutip pernyataan Tjahjo Kumolo pun menganggap aksi Ketua BEM Universitas Indonesia, Zaadit Taqwa yang memberikan " kartu kuning" kepada Presiden Joko Widodo sebagai sebuah tindakan tak terpuji.Puisi terbaru sy "Peluit Kartu Kuning"— Fadli Zon (@fadlizon) 5 Februari 2018
Puisi ini ditulis sbg dukungan aksi kartu kuning Ketua BEM UI Zaadit Taqwa. #KartuKuningUntukJokowi pic.twitter.com/7K5QEvskhB
"Tindakan seorang mahasiswa UI yang demonstrasi sangat tidak menghormati bapak Presiden RI yang hadir memberikan penghormatan kepada keluarga besar UI," kata Tjahjo melalui pesan singkatnya, Sabtu (3/2/2018). Padahal, kata Tjahjo, Presiden Jokowi hadir dalam acara Dies Natalis Ke-68 UI itu tak lain karena ingin memberikan penghargaan kepada kampus "jaket kuning" atas sumbangsihnya kepada bangsa dan negara selama ini.
Kartu kuning
Aksi kartu kuning kepada Jokowi terjadi pada Jumat (2/1/2018). Saat itu, Jokowi masih berada di atas panggung seusai memberikan sambutan di acara Dies Natalies UI di kampus UI, Depok.
Saat sesi foto bersama, tiba-tiba saja Ketua BEM UI Zaadit Taqwa mengacungkan kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo sambil meniup peluit.
Akibat aksi tersebut, Zaadit diamankan Paspampres keluar ruangan Balairung UI.
Menanggapi aksi itu, Jokowi ingin agar pengurus BEM UI ikut melihat dan menyaksikan kondisi yang ada di Kabupaten Asmat, Papua.
"Mungkin nanti, ya, mungkin nanti saya akan kirim semua ketua dan anggota di BEM untuk ke Asmat, dari UI, ya," kata Presiden Joko Widodo setelah menghadiri Haul Majemuk Masyayikh di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (3/2/2018), seperti dikutip Antara.
"Biar lihat bagaimana medannya yang ada di sana kemudian problem-problem besar yang kita hadapi di daerah-daerah, terutama Papua," katanya. Presiden Joko Widodo menghadiri Dies Natalis ke-68 Universitas Indonesia tersebut menekankan pentingnya perguruan tinggi harus melakukan banyak inovasi.
Embo.




No comments:
Post a Comment